Selasa, 01 September 2009
Dari Media Isnet
Indeks Islam | Indeks Artikel
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Dari artikel-artikel lepas
* Murad Hoffman (duta besar Jerman di Maroko, pada tahun 1992), telah menulis beberapa buku mengenai Islam, semenjak dia memeluk Islam.
* Cat Stevens bekas penyanyi pop dengan lagu terkenalnya "Morning Has Broken", sekarang bernama Yusuf Islam.
* A Christian Ministers Conversion to Islam by (Abu Yahya) Jerald F. Dirks, M.Div., Psy.D.
* Islam Luring More Latinos: Prayers Offer a More Intimate Link to God, Some Say by Chris L. Jenkins Washington Post Staff Writer
* From Mexico to Mecca How a Latino immigrant reinvented himself in America as a Muslim
* Latinos abandon Catholic church for Islam
* Ranks Latinos turning to Islam are increasing
* The new face of Islam
* Islam blooms in genocide's wake Rwandans jump to faith they view as tolerant by Laurie Goering Tribune foreign correspondent
* Maryam Jamilah - Surat menyurat antara muallaf Maryam Jamilah dengan Abul A'la Maududi
* Napoleon Bonaparte - Jenderal besar Perancis
Dari buku "Jihad Gaya Amerika"
* Dari Al-Azhar ke Oak Park - Hoda Boyer
* Revolusi Lama dengan Bungkus Baru - Jamil Abdullah Al-Amin (H. Rap Brown)
* Di Bawah Tikar Sembahyang - Tarajee Abdur-Rahim
* Pembebasan - Elias Sengor
* "Artinya Kamu Bukan Orang Yahudi?" - Selik Baba (Selik Schwartz)
* Mimpi Bertemu Rasulullah - Syaikh Nur al-Jerrahi (Lex Hixon)
* Lompatan Iman - Kareem Abdul-Jabbar
* Si Perkasa - Muhammad Ali
* Hari-hari Bersama May - May May Ali
* Menjadi Penyalur Rejeki - Mujahid Ali (Clarence C. Lilley)
* Mimpi Bertemu Rasulullah - Syaikh Nur al-Jerrahi (Lex Hixon)
* Operasi Badai Gurun - Ayah Hariri
* Seruan dari Gedung Putih - Robert Dickson Crane
* Dari Menara Pengawas ke Menara Azan - Raphael Narbaez, Jr.
* Kunjungan ke Turki - Davud Abdul Hakim
Dari buku "Mengapa Kami Memilih Islam" (versi bhs Inggris)
* Pendahuluan
* Kata Pengantar
* Mukaddimah oleh Al-Ustadh Khursyid Ahmad
o Dasar-dasar kepercayaan Islam
o Pertama: Mudah, Rasional dan Praktis
+ Beberapa watak pokok Islam
o Kedua: Bersatunya Benda dan Rohani
o Ketiga: Jalan Hidup yang Sempurna
o Keempat: Ada keseimbangan antara perorangan dan kemasyarakatan
o Kelima: Universal dan Kemanusiaan
o Keenam: Stabil dan Berkembang
o Ketujuh: Ajaran-ajaran Terpelihara dari Perubahan
* Bagian I. Para Negarawan dan Diplomat
o Al-Haj Lord Headly Al-Farooq Seorang Bangsawan, Negarawan dan Pengarang
o Mohammad Asad Seorang Negarawan, Wartawan dan Pengarang
o Sir Abdullah Archibald Hamilton Negarawan dan Bangsawan Inggris
o Mohammad Alexander Russel Webb (Amerika Serikat) Diplomat, Pengarang dan Wartawan
o Sir Jalaluddin Louder Brunton Negarawan dan Bangsawan Inggris
o Muhammad Aman Hobohm (Jerman) Diplomat, Missionary dan Tokoh Masyarakat
* Bagian II. Para Ahli Pengetahuan dan Pengarang
o Prof. Haroon Mustapha Leon Ahli bahasa, ahli geologi dan pengarang
o Ali Selman Benoist (Perancis) Doktor ilmu kesehatan
o Dr. Umar Rolf Baron Ehrenfels (Austria) Gurubesar Antropologi
o Dr. Abdul-Karim Germanus Guru Besar Ahli Ketimuran (Orientalist)
o Dr. Hamid Marcus (Jerman) Ahli Pengetahuan, Pengarang dan Wartawan
o William Burchell Basyir Pickard Pengarang, Penyair dan Pengarang Cerita
o Kolonel Donald S. Rockwell Penyair, Kritikus dan Pengarang
o Mr. R.I. Mellema (Belanda) Anthropologist, Penulis dan Guru
* Bagian III . Wanita-Wanita Yang Memeluk Islam
o Miss Mas'udah Steinmann (Inggris)
o Navis B. Jolly (Inggris)
o Lady Evelyn Zeinab Cobbold (Inggris)
o Mrs. Cecilia Mahmudah Cannolly (Australia)
o Miss Fatima Kazue (Jepang)
o Miss Amina Mosler (Jerman)
* Bagian IV. Para Reformer, Pengkhotbah dan Tokoh Masyarakat
o Muhammad John Webster Presiden Missi Islam di Inggris
o Ismail Wieslaw Zejieski Sosiolog, Reformer dan Tokoh Masyarakat Polandia
o Abdullah Battersbey (Mayor Tentara Inggris)
o Husain Rofe (Reformer Inggris)
o Thomas Irving (Tokoh Masyarakat Kanada)
o Fauzuddin Ahmad Overing (Pengkhotbah dan Tokoh Masyarakat Belanda)
o Umar Mita Ahli Ekonomi, Tokoh Masyarakat dan Pengkhotbah Jepang
o Prof. Abdul-Ahad Dawud B.D. (Bekas Pendeta Tinggi pada David Bangamni Keldani, Iran)
o Ali Muhammad Mori (Tokoh Masyarakat/Pengkhotbah Jepang)
* Bagian V. Golongan-golongan Lain
o H.F. Fellows (Inggris)
o Muhammad Sulaiman Takeuchi Ethnolog Jepang
o S. A. Board (Amerika Serikat)
o B. Davis (Inggris)
o Thomas Muhammad Clayton (Amerika Serikat)
o J.W. Lovegrove (Inggris)
o T.H. McBarkli (Irlandia)
o Devil Warrington Fry (Australia)
o Farouk B. Karai (Zanzibar)
o Mu'min Abdurrazzaque Selliah (Srilangka)
o Abdullah Uemura (Jepang)
o Ibrahim Voo (Malaysia)
o Mahmud Gunnar Erikson (Sweden)
* Keterangan dalam Kitab Suci Persi (Aslinya bahasa Pahlavi)
* Penutup
* A. Negara Muslim yang Sudah Merdeka
* B. Negara Muslim di Bawah Kekuasaan Non Muslim
* C. Muslim yang Tinggal di Negara Non Muslim
* Resume
(sesudah)
Mengapa Kami Memilih Islam
Oleh Rabithah Alam Islamy Mekah
Alih bahasa: Bachtiar Affandie
Cetakan Ketiga 1981
Penerbit: PT. Alma'arif, Bandung
Indeks Islam | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Senin, 05 Januari 2009
Seorang Neo-Nazi Menjadi Seorang Muslim
Perkenalan Myatt dengan Islam berawal ketika ia berlibur ke Mesir. Di negeri Piramida itu ia berkunjung ke sebuah masjid dan hatinya tersentuh dengan keindahan suara adzan yang dilantunkan dari masjid itu meski ia belum mengerti apa itu adzan. Sejak itu, Myatt mulai ingin tahu tentang Islam dan setiap berlibur ke Mesir, ia mencari kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Muslim Mesir dan menanyakan tentang agama mereka. Myatt juga membeli sebuah al-Quran, membacanya sedikit demi sedikit hingga ia berkesimpulan ajaran al-Quran adalah ajaran yang masuk akal dan makin membuatnya kagum dengan Islam dan umat Islam.
"Semakin banyak saya bertemu dengan Muslim, saya semakin mengagumi mereka," kata Myatt.
Ketika itu, Myatt tidak langsung berpikiran untuk masuk Islam. Ia masih dikuasai oleh egonya, cara hidupnya sebagai orang Barat dan dua hal yang membuatnya menahan diri untuk tidak mengapresiasi Islam secara penuh dan mempelajarinya lebih jauh lagi.
Dua hal itu adalah, pertama, karena keyakinannya yang tertanam sejak lama pada alam semesta. Keyakinan bahwa umat manusia adalah milik dari seorang "ibu" yaitu "bumi". Kedua, karena budaya bangsanya yang membuatnya merasa lebih mulia dan superior dibandingkan bangsa lainnya. Selama puluhan tahu, Myatt terombang-ambing dalam keyakinan itu, yang ia pikir sebagai sumber dari zat yang suci. Belum lagi posisinya sebagai aktivis kelompok sayap kiri dan Neo-Nazi yang membuat banyak orang termasuk para wartawan yang menilainya sebagai politisi yang jahat.
"Ketika itu saya masih bersikap arogan, yang hanya percaya dengan keyakinan saya sendiri dan dalam memahami apa yang telah saya raih," imbuh Myatt.
Hatinya tergerak kembali untuk mulai serius mempelajari Islam ketika ia beralih profesi, mengelola sebuah peternakan. Ia bisa bekerja selama berjam-jam seorang diri. Kedekatannya dengan alam, mengetuk jiwa dan rasa kemanusiaannya. Ia mulai menyadari kesatuan alam semesta dan bagaimana ia menjadi bagian dari semua itu yang ciptakan oleh Tuhan.
Jauh di dasar hatinya, Myatt mengakui bahwa alam semesta ini tidak terjadi secara kebetulan tapi memang diciptakan. Terkadang keyakinan dan ego lamanya muncul. Ia merasakannya seperti berperang dengan godaan setan. Namun ia makin meyakini di dalam hatinya tentang satu-satunya Sang Maha Pencipta.
Abdul Aziz Myatt tahun 1989
"Apa yang saya temukan di al-Quran adalah hal-hal yang logis, alasan, kebenaran, keadilan, kemanusiaan dan keindahan," sambungnya.
Myatt makin tertarik untuk lebih mendalami agama Islam. Ia pun mencari informasi tentang Islam lewat internet dan membaca banyak artikel tentang agama Islam di situs-situs Islam. Dengan melepaskan semua prasangka dan arogansinya, Myatt harus mengakui kalau agama Islam adalah agama yang mulia.
"Saya merasakan menemukan ajaran tentang kemuliaan, rasa hormat, rasa saling percaya, keadilan, kebenaran, kemasyarakatan, mengingat Tuhan setiap hari, disiplin diri, penyikapan terhadap materi dari sisi spiritual dan pengakuan bahwa kita adalah hamba yang harus mengabdi pada Tuhan," papar Myatt.
Ia juga mempelajari sosok Nabi Muhammad saw dan kehidupannya. Bagaimana Rasulullah menyebarkan agama Islam dan membentuk sebuah peradaban manusia, yang membuat Myatt terkagum-kagum. "Bagi saya, ia (Rasulullah) adalah manusia sempurna dan contoh sempurna yang harus kita tiru," tukas Myatt.
Ia melanjutkan, "Semakin banyak saya tahu tentang Islam, semakin banyak keraguan dan pertanyaan dalam diri saya yang terjawab selama hampir 13 tahun belakangan ini. Saya benar-benar merasa bahwa saya akhirnya 'pulang ke rumah', menemukan jati diri saya. Rasanya seperti ketika saya pertama kali tiba di Mesir dan berkeliling kota Kairo dengan menara-menara masjid dan suara adzannya."
Myatt merasa bahwa hijrahnya ke agama Islam bukan sebuah pertanyaan lagi, tapi sebuah tugas yang harus dilakukan. Karena saya telah menemukan kebenaran bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusanNYa.
Myatt kemudian mendatangi sebuah masjid dan menyatakan ingin menjadi seorang Muslim. Ia diterima oleh jamaah masjid dengan hangat dan penuh rasa persaudaraan, yang membuatnya terharu dan meneteskan air mata. Ia bersyukur Allah swt telah menunjukannya jalan yang benar. (ln/iol/eramuslim)
Blog : http://aboutmyatt.wordpress.com
Mengapa Saya Masuk Islam
PENGANTAR KATA
Pengalaman hidup sdr Muhammad Zulkarnain dalam mencari kebenaran ditengah kegelapan kehidupan dunia ini, sangat menarik hati. Pilihannya-kepada Islam jadi agama anutan diantara sekian agama yang telah dipelajarinya, terdorong oleh kebenarannya atas kebenaran Muhammad sebagai rasul Allah Nabi penutup s.a.w. Catatan-catatan sederhana dari study keagamaan yang mengantarkan sdr Zulkarnain mengimani Muhammad s.a.w. sebagai nabi baik sekali menjadi perhatian setiap orang yang suka berfikir.
Moga moga Tuhan akan melimpahi penulis dengan iman yang kuat serta khusnuh khatimah.
Wasalam wabillahi taufiek wal hidayah
RIWAYAT SINGKAT PENULIS
Menurut bintang, penulis dilahirkan pada rasi Gemini, yaitu tanggal 6 Juni, tahun 1943, ketika bumi Indonesia masih dalam asuhan “saudara tuanya,” yang kemudian sesudah dibom atoom, menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Amerika dan sekutunya. Saya dilahirkan tanggal enam, bulan yang keenam pada hari keenam jam enam pagi. Apakah pembaca percaya itu ataukah tidak, terserah, tetapi begitulah yang dituliskan oleh bapak pendeta ketika mempermandikan saya pada tanggah 27 Nopember 1949 di Pekalongan. Saya anak Kristen, tetapi jelas bukan Kristen abangan, sebab pada tahun 1936 ayah saya, Izaak Hendrik, telah lulus dari Kweekschool van het Leger Des Heils Bandung, yaitu sekolah Opsir, atau sekolah pendeta dari sekte Bala Keselamatan, masih termasuk mashab Methodist - Inggris.
Oleh karena sejak kecil saya sudah harus membaca Injil, maka akhirnya saya mahir dalam menghapal dan mengetahui ayat-ayat Injil, seperti para pendeta dan calon pendeta pada umumnya.
Meskipun ayah saya pengikut faham Protestan, tetapi saya disekolahkan di sekolah Katolik, yaitu pada waktu di S.R. tiga tahun lamanya, S.M.P. dua tahun lamanya, dan di S.M.A. setahun pula. Selebihnya saya bersekolah di sekolahan Kristen (Protestan maksudnya). Dalam sekolah Katolik saya harus pula mempelajari agama Katolik, sebab disana, andaikan murid itu pandai sekalipun bila vak agama (Katolik tentunya) mendapat angka 5, tidak akan ia dinaikkan kelasnya. Waktu saya duduk dikelas dua S.M.P., saya dikeluarkan, karena saya menentang pateer Paulinos yang mengajarkan Sejarah Dunia, yang dalam menerangkan tentang Reformasi, banyak sekali saya rasakan menyinggung kenyataan yang saya peroleh dalam agama Protestan. Didalam kehidupan saya dalam agama Kristen, saya merasakan amat bahagia, sebab saya adalah seorang diantara sekian banyak orang yang telah diselamatkan oleh Yesus juru selamat saya, Anak Allah yang telah turun kedunia mati ganti dosa-dosa kita. Saya sangat fanatik pada agama saya, sebab negeri saya, (Timor Kupang) 95% Kristen, lagi pula banyak paman-paman saya yang menjabat penetua, yaitu pendeta-pendeta kecil didesa disamping ayah sayapun adalah seorang pendeta. Itulah makanya saya pernah bermukim setahun lamanya dalam sekolah pendeta jalan Kramat Raya 55 Jakarta, yaitu kira-kira tahun 1962. Islam bagi saya adalah bukan suatu agama. Islam itu kolot, Islam identik dengan Arab, sedangkan Arab itu kikir. Agama Islam tidak memperoleh keselamatan Illahi, sebab tidak mengakui Yesus sebagai anakNya yang tersalib ganti dosa dan salah kita. Ia, bila hendak sembahyang harus berteriak-teriak dahulu, dan mencuci kaki serta meminum air bekas cuciannya, alangkah kotornya. Islam itu kejam, mengacaukan negara kita, mau pula merubah dasar negara kita menjadi negara Islam, dan untuk itu ia memberontak.
BAGAIMANA SAYA MENGENAL ISLAM
Sejarah ibarat roda, selalu berputar dan berputar. Demikian pula dengan manusia. Apa yang baru dihari ini, akan usang dikeesokannya, apa yang baik hari ini, belum tentulah baik kemudiannya. Dunia penuh dinamika dan romantika. Sayapun penuh dengan dinamika dan romantika. Pada tahun 1964 saya naik kereta api dari Jakarta ke Surabaya, entah suatu kesengajaan yang sudah diatur oleh Tuhan ataukah bagaimana, tetapi yang jelas saya telah duduk berdampingan dengan seorang yang mengaku bernama Haji Mahmud, yang tertarik oleh ketekunan saya membaca injil, akibatnya berdialog, dan dalam dialog itu ia memberikan pada saya “Sebuah ajaran Islam,” yang bunyinya: ‘Kul huallahu Ahad, Allahus samad, Lam yalid walam yulad, Walam yakun lahu kufuwan Ahad,’ yang artinya:
Katakanlah wahai Muhammad, sesungguhnva Allah itu Esa tempatmu bergantung. Ia (Allah) tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan Ia tiadalah mempunyai tandingan.”
Haji tersebut menerangkan, bahwa Islam bukan hanya sekedar Agama, tetapi juga suatu risalah, suatu ideologie dan suatu falsafah, yang cocok untuk sega]a bangsa dan golongan. Islam tidak mengenal diskriminasi, dan jabatan, dan pangkat, itulah sebabnya dalam mesjid hanya dipakai tikar, dan dalam sambahyang semua ummatnya harus tunduk hingga mukanya ke bumi tanpa memandang dia itu apa dan siapa.
DORONGAN SAYA UNTUK MENYELIDIKI INJIL
Kalimat-kalimat Lam yalid Qalam yulad, benar-benar merupakan kalimat pendorong pada saya untuk menyelidiki apa sebenarnya Islam itu. Itulah sebabnya saya lalu dihinggapi penyakit “memborong” buku-buku Islam, baik itu karangan Prof. Dr. Hamka, Sallaby, Ashiddiqy, Imam Ghozali, Rosyidi, maupun kepada Al-Qur’annya sendiri, yaitu tafsirannya, dan kitab hadits-hadits. Iman saya kepada Kristen makin lama makin luntur. Satu persatu dogma dogma Kristen tidak dapat saya terima lagi. Pertanyaan hati saya tentang Tuhan itu tiga tetapi satu; juga tentang Yesus itu manusia dan Yesus itu juga Allah, tentang dosa keturunan. Salib dstnya satu persatu terjawab dalam Al-Qur’an secara jelas. Dan untuk ini saya kira karena saya mengadakan penyelidikan pengulangan terhadap Injil. Sudah tentu bukan penyelidikan secara dahulu lagi yang mendasarkan pembacaan kepada sola fide, tetapi penyelidikan baru, yaitu dengan menggunakan ratio, dan menggunakan kitab suci yang lain (Taurat & Qur’an) sebagai bahan pembanding.
Selebihnya baca di http://swaramuslim.com/ebook/html/003/
Menguak Misteri Muhammad
Prof. David Benjamin Keldani adalah seorang mantan pastur Katholik Roma sekte Uniate-Chaldean. Ujarnya: "Kepindahan saya ke Islam tak lain karena hidayah Allah. Tanpa bimbingan-Nya, semua pengetahuan, penelitian untuk menemukan kebenaran ini mungkin hanya akan membawa kepada kesesatan. Begitu saya mengakui keesaan mutlak Tuhan, maka nabi Muhammad SAW pun menjadi pola sikap dan perilaku saya
David Benjamin Keldani
David Benjamin Keldani lahir pada tahun 1867 di Urmia, Persia. Setelah masuk Islam, David Benjamin Keldani mengganti namanya menjadi Abdul Ahad Dawud. Ia adalah seorang mantan pendeta katolik Roma dari sekte Uniate-Khaldean. Ia mengenyam pendidikan sejak kecil dikota itu. Dari 1886-1889 (3 tahun) ia menjadi staf pengajar Arbischop of Canterbury's Mission untuk Assyrian (Nestorian) Christians di Urmia.
Penobatan sebagai pendeta dan perjalanannya
Pada tahun 1892, ia diutus oleh Kardinal Vaughan ke Roma. Disana ia mempelajari filsafat dan teologi pada Propaganda Fide College, dan pada tahun 1895 dinobatkan sebagai pendeta. Pada tahun 1892 ia menulis serangkaian artikel di The Tablet tentang “Assyria, Romawi, dan Canterbury”; dan juga pada Irish Record tentang “keotentikan Pentateuch”. Pentateuch adalah lima kitab perjanjian lama yang terdiri atas Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Ia mempunyai beberapa terjemahan Ave Maria dalam bahasa berbeda-beda yang diterbitkan di Illustrated Catholic Missions.
Ketika berada di Istanbul, dalam perjalanannya ke Persia pada tahun 1895, ia menulis serangkaian artikel panjang tentang “Gereja-Gereja Timur” dalam bahasa Inggris dan Perancis di surat kabar harian yang terbit disana dengan nama The Levant Herald. Pada tahun 1895, ia bergabung dengan French Lazarist Mission di Urmia, dan terbit untuk pertama kali dalam sejarah misi itu sebuah majalah berkala dalam bahasa Syria yang bernama Qala-la-Syara (Suara Kebenaran).
Pada tahun 1867, ia diutus oleh dua uskup besar Uniate-Khaldean dari Urmia dan Salmas untuk mewakili Katolik Timur pada Kongres Ekaristi yang diselenggarakan di Paray-le-monial, Perancis, dibawah pimpinan Kardinal Perraud. Tentu saja, ini adalah undangan yang resmi. Makalah yang dibacakan di kongres oleh Benjamin disiarkan dalan Tawarikh Kongres Ekaristik dan disebut disebut “Le Pellerin”. Dalam makalah ini, Khaldean Arch-Priest (begitu gelar resminya) menyesalkan sistem pendidikan Katholik dikalangan Nestorian, dan meramalkan kemunculan yang sudah dekat dari pendeta Rusia di Urmia.
Pada tahun 1888, Benjamin kembali lagi ke Persia. Di kampung halamannya, Digala, sekitar 1 mil dari kota, ia membuka sekolah gratis.
Tahun berikutnya ia dikirim oleh otoritas Gereja untuk memimpin Keuskupan Salmas, dimana konflik yang tajam dan berbau skandal antara Uskup Besar Uniate, Khudabash, dan para Bapa Lazarist yang sudah berlangsung lama telah mengancam terjadinya perpecahan.
Khotbah terakhir
Pada tahun 1900, Bapak Benjamin menyampaikan khotbah terakhirnya dan patut dikenang dihadapan banyak sekali jemaat, termasuk orang Armenia yang non-Katholik dan lain-lainnya, didalam Katedral Khorovabad St. George, Salmas. Pokok bahasan sang pengkhotbah adalah “Abad Baru dan Manusia Baru”. Ia mengingatkan kepada fakta bahwa misionaris Nestorian, sebelum munculnya Islam, telah mengabarkan ajaran-ajaran Yesus (injil) diseluruh Asia; Bahwa mereka memiliki banyak lembaga di India (khususnya pantai Malabar), di Tartar, Tiongkok, dan Mongolia; dan bahwa mereka menerjemahkan kitab Injil kedalam bahasa Turki, Uighur, dan bahasa-bahasa lainnya; Bahwa misi-misi Katholik, Amerika, dan Anglikan, meskipun mereka telah melakukan sedikit kebaikan untuk bangsa Assyro-Khaldean melalui pendidikan dasar, telah memecah bangsa itu di Persia, Kurdistan, dan Mesopotamia menjadi banyak sekali sekte yang bermusuhan; dan bahwa upaya-upaya mereka ditakdirkan untuk menyebabkan keruntuhan yang terakhir. Konsekuensinya, ia menganjurkan kepada orang-orang pribumi untuk melakukan pengorbanan agar dapat berdiri diatas kaki sendiri sebagai manusia sejati, dan tidak tergantung pada misi-misi asing, dan sebagainya.
Ucapan-ucapannya menyinggung para misionaris. Khotbah ini segera mendatangkan Delegasi Apostolik, Mgr. Lesne dari Urmia ke Salmas. Ia tetap menjadi teman yang terakhir bagi Benjamin. Mereka berdua kembali ke Urmia. Sebuah misi Rusia baru sudah diadakan di Urmia sejak tahun 1899. Kaum Nestorian dengan antusias memeluk agama Tsar untuk seluruh Rusia.
Lima misi yang besar dan angkuh (Amerika, Anglikan, Perancis, Jerman, dan Rusia) disertai universitas-universitas mereka, pers yang didukung oleh kalangan agamawan yang kaya, para konsul dan duta besar, berusaha keras mengajak sekitar 100.000 orang Assyro-Khaldean untuk pindah dari Bid'ah Nestorian ke salah satu dari lima bid'ah itu. Tetapi misi Rusia segera melampui misi-misi lainnya, dan misi inilah pada tahun 1915 mendorong bangsa Assyria dari Persia dan juga suku-suku pegunungan Kurdistan, yang kemudian pindah ke Salmas dan Urmia, untuk angkat senjata melawan pemerintah mereka masing-masing. Hasilnya adalah separuh pengikutnya lenyap dan sisanya terusir dari kampung halaman mereka.
Berpindah agama
Pertanyaan besar yang sudah lama berkecamuk dalam benak pendeta ini sekarang mendekati klimaksnya: "Apakah agama Kristen, dengan banyak sekali bentuk dan warnanya, dan dengan naskah-naskah sucinya yang tidak otentik, palsu, dan menyimpang, adalah agama Tuhan yang sejati?"
Pada musim panas tahun 1900, ia pensiun dan tinggal di villa mungilnya ditengah-tengah kebun anggur dekat air mancur Challi Boulaghi yang terkenal di Digala, dan disana selama sebulan ia habiskan waktunya untuk sembahyang dan meditasi, membaca berulang-ulang naskah-naskah suci dalam teks-teks aslinya. Krisis pun berakhir dengan pengunduran resmi yang dikirimkan ke Uskup Agung Uniate, Urmia, dimana ia secara terbuka menjelaskan kepada Mar (Mgr.) Touma Audu mengenai alasan-alasan dia melepaskan fungsi kependetaannya. Segala upaya yang dilakukan oleh otoritas kependetaan untuk membatalkan keputusannya sia-sia belaka. Tidak ada perselisihan atau permusuhan pribadi antara Benjamin dan para atasannya.
Selama beberapa bulan Mr. Dawud – begitulah panggilannya sekarang – dipekerjakan di Tibriz sebagai inspektur di Kantor Pos dan Bea Cukai Persia dibawah para ahli Belgia. Kemudian ia ditugaskan sebagai guru dan penerjemah Putera Mahkota Muhammad Ali Mirza.
Pada tahun 1903, sekali lagi ia mengunjungi Inggris dan disana ia bergabung dengan komunitas Unitarian. Pada tahun 1904 ia dikirim oleh British and Foreign Unitarian Association untuk menangani masalah pendidikan dan penerangan ditengah masyarakat desanya. Dalam perjalanan menuju Persia ia mengunjungi Istanbul; dan setelah mengadakan beberapa wawancara dengan syeikh Islam yang bernama Jamaluddin Effendi dan beberapa ulama lainnya, ia memeluk agama Islam. (dari wikipedia)
KATA PENGANTAR
Ucapan Ilahi terhadap Arabia (Yesaya 21:13)
Bagaimana dengan bahasa Arami, ketika sangat sedikit dikalangan pendeta sekalipun yang mampu memahami versi Perjanjian Baru dalam bahasa latin (Vulgate) dan versi bahasa Yunani? Khususnya lagi ketika riset-riset kami didasarkan hanya pada etimologi bahasa Yunani dan Latin!
Bagaimanapun nilai disertasi-disertasi seperti itu di mata musuh kami, pada saat sekarang, sama sekali tidak mampu mengapresiasinya dari sudut ilmu pengetahuan; karena ambiguitas makna yang melekat pada ungkapan-ungkapan nubuat yang saya singgung membuat ungkapan-ungkapan itu cukup elastis untuk mencakup setiap kasus.
Yang dikatakan "paling kurang" dalam nubuat Johanes Pembaptis tidak mungkin adalah anak Maria, meskipun ia dipandang hina oleh masyarakat bangsanya sendiri. Asal tukang kayu suci itu dari kalangan sederhana. Ia dicemooh, diperolok, dan didiskreditkan, ia diremehkan dan dibuat keliatan "paling kurang" dalam penilaian kalangan Scribe (ahli menulis) dan Pharisee (anggota sekte Yahudi yang menafsirkan hukum Musa secara keras).
Ekses dari semangat yang ditunjukkan oleh para pengikutnya pada abad kedua dan ketiga masehi, yang selalu cenderung loncat pada apa saja dalam bentuk nubuat dalam Alkitab, sudah pasti akan menyebabkan mereka meyakini ahwa Tuhan mereka adalah orang yang disinggung oleh Yohanes Pembaptis.
Namun, ada kesulitan lain yang menghadang, bagaimana seseorang dapat mempercayai kesaksian dari sebuah kitab yang tak dapat disangkal penuh dengan dongeng? Keaslian Alkitab telah dipertanyakan oleh seluruh dunia. Tanpa menindaklanjuti pertanyaan tentang keasliannya, paling tidak kita bisa mengatakan bahwa kita tidak bisa bergantung pada pernyataan-pernyataan Alkitab mengenai Yesus dan mukjizat-mukjizatnya.
Sebagian orang malah lebih jauh lagi menegaskan bahwa eksistensi dia sebagai makhluk bersejarah dipertanyakan, dan menurut kitab Injil akan berbahaya kalau sampai pada sesuatu kesimpulan yang keliatannya aman mengenai masalah ini.
Seorang Kristen Fundamentalis tidak bisa berkomentar apa pun terhadap pernyataan saya mengenai hal ini. Jika "kalimat-kalimat sesat" dan kata-kata yang objektif dalam Perjanjian Lama dapat dikhususkan oleh para penulis sinoptik sebagai berlaku bagi Yesus, maka segala komentar dari penulis yang berpengetahuan tinggi mengenai artikel-artikel ilmiah dan sangat menarik ini pasti menimbulkan respek dan apresiasi dalam segala hal sekalipun dari lembaga kependetaan.
Saya menulis dengan nada yang sama, tetapi saya telah berusaha mendasarkan argumen-argumen saya pada bagian-bagian Alkitab yang hampir tidak membolehkan adanya perselisihan linguistik apa pun. Saya tidak akan pergi ke bahasa Latin, Yunani, atau Arami, karena hal itu tidak ada gunanya. Saya hanya memberikan kutipan berikut dari Alkitab revisi Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1974.
Kami membaca firman berikut dalam kitab Ulangan 18:18
"Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya."
Jika firman diatas tidak tertuju kepada Muhammad, maka firman itu tetap masih berlum terpenuhi. Yesus sendiri tidak pernah mengklaim sebagai nabi yang dimaksud. Bahkan murid-muridnya pun berpendapat sama. Mereka mengharapkan kedatangan Yesus yang kedua untuk memenuhi nubuat [2].
Sejauh ini tidak ada perselisihan bahwa kedatangan Yesus yang pertama bukanlah kelahiran "nabi seperti engkau", dan kelahirannya yang kedua hampir tidak dapat memenuhi nubuat itu.
Yesus, sebagaimana diyakini oleh gerejanya, akan muncul sebagai “Hakim” dan bukan sebagai “Pemberi Hukuman”. Tetapi, orang yang dijanjikan haruslah membawa "api (hukum) yang menyala" ditangannya.
Namun, dalam memastikan personalitas dari nabi yang dijanjikan, nubuat yang lain dari Musa sangatlah menolong yang berkata tentang sinar Tuhan dari Paran, pegunungan Mekah. Firman dalam naskah kitab King James Version Ulangan 33:2, berbunyi sebagai berikut:
"Berkatalah ia: "Tuhan datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dengan sepuluh ribu orang kudus; di sebelah kanannya tampak kepada mereka api yang menyala.”
Dalam firman ini, Tuhan diibaratkan dengan matahari. Dan Yesus sama sekali tidak pernah ke Paran. Yang ada hubungannya dengan Paran adalah Hajar dan anaknya yang bernama Ismail, berkeluyuran di padang gurun Bersyeba, yang kemudian menetap dipadang gurun Paran.
"Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir".(Kejadian 21:21)
Ismail menikahi seorang wanita Mesir, dan dari kelahiran pertamanya, Kedar, memberikan keturunan kepada bangsa Arab yang dari sejak itu sampai sekarang menjadi penghuni padang gurun Paran. Dan jika tidak dapat disangkal lagi, bahwa silsilah keturunan Muhammad merujuk kepada Ismail melalui Kedar dan ia tampil sebagai seorang nabi di padang gurun Paran dan menaklukkan Mekah dengan 10.000 pasukan dan menegakkan api (hukum) yang menyala kepada kaumnya, maka bukankah nubuat tesebut terpenuhi sesuai bunyinya?
Bunyi nubuat dari Habakuk 3:3 sangat perlu diperhatikan. "Keagungannya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepadanya."
Mengenai padang gurun Paran juga telah diwahyukan :
"Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! Baiklah mereka memberi penghormatan kepada Tuhan dan memberitakan pujian yang kepadanya di pulau-pulau. Tuhan keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangatnya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuhnya Ia membuktikan kepahlawanannya. (Yesaya 42:11-13)
Sehubungan dengan itu, ada dua nubuat lain yang perlu diperhatikan yang merujuk kepada Kedar: Pertama dalam Yesaya 60:1-7 yang bunyinya :
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu. Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN. Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.”
Nubuat lainnya, lagi-lagi dalam Yesaya 21:13-17 [3]
“Ucapan ilahi terhadap Arabia . Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah-kafilah orang Dedan! Hai penduduk tanah Tema, keluarlah, bawalah air kepada orang yang haus, pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti! Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang yang terhunus, terhadap busur yang dilentur, dan terhadap kehebatan peperangan. Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: "Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis. Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecil saja, sebab TUHAN, Allah Israel , telah mengatakannya."
Bacalah nubuat-nubuat dari kitab Yesaya dan kitab Ulangan yang berbicara tentang sinar Tuhan dari Paran: Jika Ismail menghuni padang gurun Paran, tempat ia melahirkan Kedar, yakni nenek moyang bangsa Arab; dan jika anak-anak Kedar harus memberikan sambutan pada altar ilahi untuk mengagungkan “rumah keagunganNya” dimana kegelapan akan menyelimuti bumi selama beberapa abad, dan kemudian negeri itu akan menerima terang dari Tuhan; dan jika semua keagungan Kedar akan runtuh dan jumlah para pemanah, orang-orang perkasa dari anak-anak Kedar akan lenyap dalam setahun setelah orang itu melarikan diri dari pedang yang di hunus dan busur yang dilentur-Yang kudus dari Pegunungan paran (Habakuk 3:3) tak lain adalah Muhammad.
Muhammad keturunan suci dari Ismail melalui Kedar, yang berdiam di padang gurun paran. Melalui dia, maka Tuhan bersinar di Paran, dan Mekkah adalah satu-satunya tempat dimana rumah Allah (bait Allah) dimuliakan dan domba-domba Kedar memberikan sambutan diatas altarnya.
Muhammad dizalimi oleh kaumnya dan terpaksa meninggalkan Mekkah. Dia kehausan dan melarikan diri dari pedang yang dihunus dan busur yang dilentur, dan setahun kemudian setelah Muhammad meninggalkan Mekkah, dalam perang Badar, dia berhasil mengalahkan penduduk Mekkah dan sejumlah bani Kedar yang gagah perkasa tewas dan semua kemuliaan Kedar tumbang dalam perang Badar.
Jika para nabi suci tidak diakui sebagai pemenuhan semua nubuat ini, maka nubuat-nubuat tersebut akan tetap tidak terpenuhi. “Rumah keagunganKu” yang disebut dalam kitab Yesaya adalah rumah Tuhan di Mekkah. Bukan Gereja Kristus sebagaimana perkiraan para ahli tafsir Kristen. Kawanan domba-domba Kedar, sebagaimana disebut dalam ayat 7, belum pernah datang ke Gereja Kristus, dan adalah fakta bahwa kampung-kampung Kedar dan penduduknya adalah satu-satunya kaum didunia ini yang tetap tidak dapat dimasuki pengaruh Gereja Kristus. Lagi-lagi, penyebutan 10.000 orang kudus dalam ulangan 33, sangatlah penting: Dia bersinar dari Paran. Dan ia datang bersama 10.000 orang kudus.
Bacalah seluruh sejarah padang gurun Paran dan Anda akan menemukan tidak ada peristiwa lain selain peristiwa penaklukan Mekkan yang dilakukan oleh nabi Muhammad bersama dengan 10.000 pengikutnya dari Madinah dan memasuki kembali “rumah keagunganNya”. Dia memberikan api (hukum) yang menyala kepada dunia dan melenyapkan hukum-hukum lainnya.
Sang Penghibur (The Comforter) atau roh kebenaran yang disebut oleh Yesus tidak lain adalah nabi Muhammad. Tidak bisa diartikan sebagai Holy Ghost (Roh Kudus), seperti versi Teolog Kristen.
“Ada gunanya bagimu kalau aku pergi” Kata Yesus,”Karena kalau aku tidak pergi maka Sang Penghibur tidak akan datang kepadamu, tapi jika aku pergi, maka aku akan mengirim dia kepadamu”.
Perkataan ini dengan jelas menunjukkan bahwa Sang Penghibur pasti datang setelah Yesus pergi, dan tidak berada bersama Yesus ketika ia mengucapkan kata-kata ini. Akankah kita menduka bahwa Yesus sama sekali tanpa Holy Ghost jika kedatangannya tergantung pada kepergian Yesus. Di samping itu, cara Yesus menggambarkan dia menunjukkan bahwa dia adalah seorang manusia, bukan roh!. “Dia tidak akan berbicara mengenai dirinya sendiri, melainkan apa yang akan didengarnya yang akan ia bicarakan.” Akankah kita menduga bahwa Holy Ghost dan Tuhan adalah dua entitas yang berbeda dab bahwa Holy Ghost berbicara tentang dirinya sendiri dan juga apa yang ia dengar dari Tuhan ?!
Ucapan-ucapan Yesus jelas sekali menunjuk kepada seorang pesuruh Tuhan. Ia menyebutnya Roh Kebenaran, dan begitulah Al-Qur'an berbicara tentang Muhammad.
http://swaramuslim.com/ebook/html/019/
Senin, 09 Juni 2008
Mengapa aku memeluk Islam-Dr. Umar Rolf Baron Ehrenfels (Austria)
Dr. Umar Rolf Baron Ehrenfels (Austria) http://media.isnet.org/islam/Mengapa/Ehrenfels.html Penggugah terpenting atas kesadaran saya tentang kebenaran agama Islam, agama besar yang sangat berpengaruh atas jiwa saya, ialah bahwa Islam itu menonjol dalam hal-hal sebagai berikut:
Berdasarkan pengertian ini, maka Gereja Aya Shofia di Istambul telah dibangun menurut prinsip arsitek besar Muslim di Timur Dekat yang diilhami oleh bangunan Mesjid Sultan Ahmad atau Muhammad Al-Fatih di Istambul. Dalam pengertian dan jiwa inilah Rasulullah s.a.w. bersabda dalam kata-katanya yang tidak bisa dilupakan oleh para pengikutnya: Syurga itu di bawah telapak kaki kaum ibu. | |
| | |
Rabu, 20 Februari 2008
Pendeta yang kemudian jadi Muballigh & Pakar Kristolog
Mubaligh asal Flores NTT ini sebelum memeluk Islam aktif sebagai misionaris di kawasan Indonesia timur dengan nama asli Eddy Crayn Hendrik. Setelah ayah dan ibunya tahu bahwa Eddy masuk Islam, maka ia diusir dari rumah oleh keluarganya. Akhirnya ia melanglang buana sambil memperdalam Islam sambil berdakwah keliling, berbekal pengalaman dari kehidupannya sendiri ditambah banyak membaca buku-buku dan kitab pergaulan yang dibangun semakin luas pengetahuan yang dimilki pun sangat mendukung dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai mubaligh.
Kerisauan yang menyesakkan dada sangat dirasakan manakala muncul berbagai fitnah terhadap Islam dan masyarakat Muslim. Untuk menghadapi fitnah dan serangan terhadap Islam, apalagi bila ayat suci Al-Qur’an dibajak untuk kepentingan di luar Islam, maka untuk menangkalnya perlu diungkap fakta sejarah agama-agama dunia, serta evolusi sejak zaman Nabi Adam hingga Muhammad SAW. Hal ini sangat perlu disampaikan kepada seluruh umat Islam khususnya mubaligh yang berada di lapangan untuk bekal dialog dengan tokoh agama non Islam supaya tidak terjadi kontra produktif terhadap dakwah.
Zulkarnaen yang lahir 6 Juli l943 dari seorang ayah Izac Hendrick sebagai Pendeta dan Ibu Mariam seorang biarawati Protestan. Setelah menamatkan SMA Xapensia di Kupang l960 kemudian melanjutkan sekolah Kependetaan dan menekuni Injil, dan menjadi Pendeta di Kupang dari tahun l962-l966 mengajarkan Trinitas dan penebusan dosa dari ketuhanan Yesus. Baru pada tahun l967 ia masuk Islam di hadapan wali KUA Dompo, Sumbawa, kemudian namanya berubah menjadi Muhammad Zulkarnaen. Kisahnya diawali ketika ia jalan-jalan di komplek pertokoan Tunjungan Surabaya, kemudian membeli buku pendidikan agama Islam karya DR. HAMKA. Setelah mempelajari beberapa lama, kemudian timbul konflik batin berkepanjangan antara tetap memeluk Protestan atau Islam. Namun setelah satu bulan ia yakin bahwa kebenaran yang haqiqi itu adalah Islam, maka kemudian ia masuk Islam dengan mantab. Sebagai mu’alaf ia mendapat bimbingan langsung dari bapak Drs. Lalu Mujtahid guru SMA Muhammadiyah Mataram, yang sekarang menjadi walikota Mataram. Zulkarnaen kemudian rajin membaca buku-buku agama Islam akhirnya menjadi mubaligh di Sumbawa beberapa tahun dan kelliling Sumatra. Tahun l977 ia menikah di Lampung dengan Hj Zubaidah aktivis NA dan Aisyiyah dan dikaruniai seorang putra bernama Iskandar Zulkarnaen, sekarang bekerja sebagai karyawan BPD Lampung.
Kemudian selama 10 tahun ia menjadi mubaligh Muhammadiyah dan keliling dari Lampung hingga Aceh. Di sela-sela berdakwah ia menulis buku : Nabi Isa dan mengkaunter propaganda Kristenisasi.
Sekarang ia menetap di Tangerang, Banten. Di sana ia tetap jadi mubaligh Muhammadiyah dan memelihara anak asuh yatim piatu sejumlah 57 anak, dari usia SD hingga SMP. Di samping itu ia menampung keluarga dluafa dan mustad’afin diberi pinjaman modal tanpa bunga untuk berjualan kue yang disetor di warung-warung di daerah Perumahan Bumi Serpong.
Tiap Hari Besar Islam seperti Maulid, Isro’Mi’roj dan Muharram ia menyelenggarakaan khitanan massal kerjasama dengan PDM dan Takmir Masjid setempat. Ia juga menyebarkan CD berisi dialog dengan Robert P. Walean Pendeta dari Seatle San Faransisco USA dan dialog dengan Pendeta Tukimin seksi Yehova yang sudah menetap di Amerika Serikat selama 15 tahun. Hasil penjualan CD dan buku karangannya dikumpulkan untuk membantu pendidikan anak-anak yatim piatu. (Ton Martono/http://suara-muhammadiyah.com)
http://swaramuslim.com/ebook/more.php?id=2526_0_11_0_M
RIWAYAT SINGKAT PENULIS
Menurut bintang, penulis dilahirkan pada rasi Gemini, yaitu tanggal 6 Juni, tahun 1943, ketika bumi Indonesia masih dalam asuhan “saudara tuanya,” yang kemudian sesudah dibom atoom, menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Amerika dan sekutunya. Saya dilahirkan tanggal enam, bulan yang keenam pada hari keenam jam enam pagi. Apakah pembaca percaya itu ataukah tidak, terserah, tetapi begitulah yang dituliskan oleh bapak pendeta ketika mempermandikan saya pada tanggah 27 Nopember 1949 di Pekalongan. Saya anak Kristen, tetapi jelas bukan Kristen abangan, sebab pada tahun 1936 ayah saya, Izaak Hendrik, telah lulus dari Kweekschool van het Leger Des Heils Bandung, yaitu sekolah Opsir, atau sekolah pendeta dari sekte Bala Keselamatan, masih termasuk mashab Methodist - Inggris.
Oleh karena sejak kecil saya sudah harus membaca Injil, maka akhirnya saya mahir dalam menghapal dan mengetahui ayat-ayat Injil, seperti para pendeta dan calon pendeta pada umumnya.
Meskipun ayah saya pengikut faham Protestan, tetapi saya disekolahkan di sekolah Katolik, yaitu pada waktu di S.R. tiga tahun lamanya, S.M.P. dua tahun lamanya, dan di S.M.A. setahun pula. Selebihnya saya bersekolah di sekolahan Kristen (Protestan maksudnya). Dalam sekolah Katolik saya harus pula mempelajari agama Katolik, sebab disana, andaikan murid itu pandai sekalipun bila vak agama (Katolik tentunya) mendapat angka 5, tidak akan ia dinaikkan kelasnya. Waktu saya duduk dikelas dua S.M.P., saya dikeluarkan, karena saya menentang pateer Paulinos yang mengajarkan Sejarah Dunia, yang dalam menerangkan tentang Reformasi, banyak sekali saya rasakan menyinggung kenyataan yang saya peroleh dalam agama Protestan. Didalam kehidupan saya dalam agama Kristen, saya merasakan amat bahagia, sebab saya adalah seorang diantara sekian banyak orang yang telah diselamatkan oleh Yesus juru selamat saya, Anak Allah yang telah turun kedunia mati ganti dosa-dosa kita. Saya sangat fanatik pada agama saya, sebab negeri saya, (Timor Kupang) 95% Kristen, lagi pula banyak paman-paman saya yang menjabat penetua, yaitu pendeta-pendeta kecil didesa disamping ayah sayapun adalah seorang pendeta. Itulah makanya saya pernah bermukim setahun lamanya dalam sekolah pendeta jalan Kramat Raya 55 Jakarta, yaitu kira-kira tahun 1962. Islam bagi saya adalah bukan suatu agama. Islam itu kolot, Islam identik dengan Arab, sedangkan Arab itu kikir. Agama Islam tidak memperoleh keselamatan Illahi, sebab tidak mengakui Yesus sebagai anakNya yang tersalib ganti dosa dan salah kita. Ia, bila hendak sembahyang harus berteriak-teriak dahulu, dan mencuci kaki serta meminum air bekas cuciannya, alangkah kotornya. Islam itu kejam, mengacaukan negara kita, mau pula merubah dasar negara kita menjadi negara Islam, dan untuk itu ia memberontak.
BAGAIMANA SAYA MENGENAL ISLAM
Sejarah ibarat roda, selalu berputar dan berputar. Demikian pula dengan manusia. Apa yang baru dihari ini, akan usang dikeesokannya, apa yang baik hari ini, belum tentulah baik kemudiannya. Dunia penuh dinamika dan romantika. Sayapun penuh dengan dinamika dan romantika. Pada tahun 1964 saya naik kereta api dari Jakarta ke Surabaya, entah suatu kesengajaan yang sudah diatur oleh Tuhan ataukah bagaimana, tetapi yang jelas saya telah duduk berdampingan dengan seorang yang mengaku bernama Haji Mahmud, yang tertarik oleh ketekunan saya membaca injil, akibatnya berdialog, dan dalam dialog itu ia memberikan pada saya “Sebuah ajaran Islam,” yang bunyinya: ‘Kul huallahu Ahad, Allahus samad, Lam yalid walam yulad, Walam yakun lahu kufuwan Ahad,’ yang artinya:
Katakanlah wahai Muhammad, sesungguhnva Allah itu Esa tempatmu bergantung. Ia (Allah) tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan Ia tiadalah mempunyai tandingan.”
Haji tersebut menerangkan, bahwa Islam bukan hanya sekedar Agama, tetapi juga suatu risalah, suatu ideologie dan suatu falsafah, yang cocok untuk sega]a bangsa dan golongan. Islam tidak mengenal diskriminasi, dan jabatan, dan pangkat, itulah sebabnya dalam mesjid hanya dipakai tikar, dan dalam sambahyang semua ummatnya harus tunduk hingga mukanya ke bumi tanpa memandang dia itu apa dan siapa.
DORONGAN SAYA UNTUK MENYELIDIKI INJIL
Kalimat-kalimat Lam yalid Qalam yulad, benar-benar merupakan kalimat pendorong pada saya untuk menyelidiki apa sebenarnya Islam itu. Itulah sebabnya saya lalu dihinggapi penyakit “memborong” buku-buku Islam, baik itu karangan Prof. Dr. Hamka, Sallaby, Ashiddiqy, Imam Ghozali, Rosyidi, maupun kepada Al-Qur’annya sendiri, yaitu tafsirannya, dan kitab hadits-hadits. Iman saya kepada Kristen makin lama makin luntur. Satu persatu dogma dogma Kristen tidak dapat saya terima lagi. Pertanyaan hati saya tentang Tuhan itu tiga tetapi satu; juga tentang Yesus itu manusia dan Yesus itu juga Allah, tentang dosa keturunan. Salib dstnya satu persatu terjawab dalam Al-Qur’an secara jelas. Dan untuk ini saya kira karena saya mengadakan penyelidikan pengulangan terhadap Injil. Sudah tentu bukan penyelidikan secara dahulu lagi yang mendasarkan pembacaan kepada sola fide, tetapi penyelidikan baru, yaitu dengan menggunakan ratio, dan menggunakan kitab suci yang lain (Taurat & Qur’an) sebagai bahan pembanding.
Selebihnya baca di http://swaramuslim.com/ebook/html/003/
Aku Yakin Yesus Kristus Bukan Allah
Abigael Mitaart :
Nama saya Abigael Mitaart, lahir di Pulau Bacan, Maluku Utara, 30 Maret 1949, dari pasangan Efraim Mitaart dan Yohana Diadon. Latar belakang agama keluarga kami adalah Kristen Protestan. Ketika beragama Kristen Protestan, saya sama sekali tidak pernah membayangkan untuk memilih agama Islam sebagai iman kepercayaan saya. Hal ini dapat dilihat dari situasi keluarga kami yang sangat teguh pendiriannya pada keimanan Kristus.Bagi saya, saat itu tidak mudah untuk hidup rukun berdampingan bersama umat Islam, karena sejak masa kanak-kanak telah ditanamkan oleh keluarga agar menganggap setiap orang Islam sebagai musuh yang wajib diperangi. Bahkan kalau perlu, seorang bayi Kristen diberikan pelajaran bagaimana caranya membuang ludah ke wajah seorang muslim. Hal ini mereka lakukan sebagai perwujudan dari rasa kebencian kepada umat Islam. Disanalah, saya tumbuh dalam lingkungan keluarga Kristen yang sangat tidak bersahabat dengan warga muslim.
Tentu saya tidak pernah absen pergi ke gereja setiap hari Minggu. Bahkan, saya berperan dalam setiap Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Misalnya, saya selalu diminta tampil di berbagai kelompok paduan suara untuk pelayanan lagu-lagu rohani di gereja. Selain itu, saya kerap mengikuti kegiatan “Aksi Natal” yang diselenggarakan oleh gereja dalam rangka pelebaran sayap tugas-tugas misionaris (kristenisasi).
TERTARIK PADA ISLAM
Ihwal ketertarikan saya pada agama Islam berawal dari rasa kekecewaan kepada ajaran-ajaran Kristen dan isi Alkitab yang hanya berisikan slogan-slogan. Bahkan, menurut saya, apabila para pendeta menyampaikan khotbah diatas mimbar, mereka lebih terkesan seperti seorang penjual obat murahan. Ibarat kata pepatah, ” tong kosong nyaring bunyinya.”Sekalipun saya sudah menekuni pasal demi pasal, ayat demi ayat dalam Alkitab, tetapi tetap saja saya sulit memahami maksud yang terkandung mengenai isi Alkitab. Misalnya, tertulis pada Markus 15:34, “Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Lalu, siapakah Yesus Kristus sesungguhnya? Bukankah ia adalah paribadi (zat) Allah yang menjelma sebagai manusia? Lalu, mengapa ia (Yesus) berseru dengan suara nyaring dan mengatakan, ”Eli, Eli,..lama sabakhtani? “ (Tuhanku,..Tuhanku,.. mengapa Engkau tinggalkan aku?)
Akhirnya saya yakin bahwa Yesus Kristus bukanlah Tuhan. Walaupun sebelumnya iman kepada Yesus Kristus sangat berarti dalam kehidupan saya. Apalagi, ketika itu didukung dengan ayat-ayat dalam Alkitab, seperti tertulis,”Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus Kristus). Sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita diselamatkan.” Kisah Para Rasul 4:12
Kemudian dilanjutkan lagi dengan Yohanes 14:6, ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapak, kalau tidak melalui Aku (Yesus).”
Setelah membaca ayat ini, kemudian saya mencoba membanding-bandingkan dengan satu ayat yang tertulis dalam QS. 3:19, ”Sesungguhnya agama (yang diridhai) pada sisi Allah ialah Islam.”
Entah mengapa, saya merasakan pikiran saya beru-bah, mungkin ini suatu keajaiban yang luar biasa terjadi dalam diri saya, karena selesai membaca ayat al-Qur’an tersebut, saya mulai merasa yakin bahwa ayat yang tertulis dalam QS. 3:19 itu bukanlah ‘ayat rekayasa’ dari Nabi Muhammad, tetapi ayat tersebut sesungguhnya adalah firman Allah yang hidup dan kehadiran agama Islam langsung mendapat ridha dari Allah SWT.
Betapa sulitnya seorang Kristen seperti saya bisa memeluk agama Islam, tetapi saya yakin dengan keputusan untuk masuk agama Islam, karena saya berkesimpulan apabila seorang beragama Kristen kemudian memilih agama Islam, selain karena mendapat hidayah, ia juga termasuk umat pilihan Allah SWT. Alhamdulillah, singkat cerita pada tanggal 22 Desember 1973, disebuah pulau terpencil bernama Pulau Moti di wilayah Makian, Maluku Utara dengan disaksikan warga muslim setempat, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Tanpa terasa air mata kemenangan berlinang, sehingga suasana menjadi hening sejenak, keharuan amat terasa saat peristiwa bersejarah dalam hidup saya itu berlangsung. Usai mengucap dua kalimat syahadat, nama saya segera saya ganti menjadi Chadidjah Mitaart Zachawerus.
Keputusan saya untuk memilih Islam harus saya bayar dengan terusirnya saya dari lingkungan rumah, pengusiran ini tidak menggoyahkan iman dan Islam saya, karena saya yakin akan kasih sayang Allah SWT, senantiasa tetap memelihara saya dalam lindungan-Nya.
“Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah tidak menolong kamu, maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu selain dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin berserah diri.” QS. 3:160
Alhamdulillah, pada bulan Juni 1996, saya bersama suami, Sulaiman Zachawerus, menunaikan rukun Islam kelima, pergi haji ke Baitullah. ( al-islahonline.com )
Sakit Berbuah Hidayah
Saat saya menjalani aktivitas agama lama saya kala itu, tiba-tiba saja saya jatuh sakit. Penyebabnya mungkin karena saya rakus makan daging. Badan saya membengkak dan perut membuncit. Beberapa penyakit seperti kolesterol, gula, dan ginjal, mulai menggerogoti tubuh saya. Dokter menganjurkan saya berhenti makan daging.
Tapi saya tidak menggubrisnya, hingga ginjal saya makin parah. Akhirnya, dokter menganjurkan saya untuk cuci darah.
Dari semenjak cuci darah inilah harta saya ikut “tercuci” pula. Malangnya, penyakitku tak kunjung sembuh, bahkan makin hari kian terlihat makin parah. Saya tidak bisa apa-apa saat itu.
Sekitar pukul 04.30 suatu pagi, saya mendengar suara adzan dari sebuah masjid. Dengan spontan saya menirukan lafadz “Laa ilaha ilallah “. Aneh, penyakit saya terasa hilang. Kata-kata itu saya ucapkan berulang-ulang, hingga ratusan kali. Ketika istri mengetahui bahwa saya mengucapkan kata-kata itu, dia mengingatkan,
Saya jawab, “Biar berasal dari setan belang atau dari agama manapun akan saya ucapkan terus, karena setiap kali dibaca sakit saya berkurang !”.
Saat pertama kali bertemu, saya langsung mengatakan bahwa saya seorang Kristen yang ingin berobat. Pak Abu menjawab, “Saya ini mengobati penyakit, bukan mengobati agama. Saya tidak menolak siapa saja yang ingin berobat kemari. Insya Allah akan saya terima dengan baik.”
Setelah berdialog tentang penyakit yang saya derita, Pak Abu kemudian mengobati saya dengan cara Islam. Saya disuruh membaca Basmallah berulang-ulang, dan Pak Abu pun terus berdoa sambil memegang bagian badan saya yang sakit. Aneh, selama prosesi itu badan saya terasa sembuh sama sekali. Yang paling mengharukan, Pak Abu memberi saya obat secara gratis, karena saat itu saya tidak membawa uang.
Semenjak itulah saya mulai tertarik pada Islam. Saya mulai menghadiri pengajian di kampung, hingga rasa simpati saya pada Islam semakin besar. Akhirnya, 18 September 1993 saya mengucapkan kalimat syahadat di kampus UII Yogyakarta. Setelah itu istri dan kedua anak saya pun masuk Islam.
Setelah menjadi Muslim, saya sering diundang untuk mengisi ceramah pengajian. Saya pun aktif mengikuti kegiatan dakwah. Saya ingin menebus dosa. Jika dahulu saya banyak mengkristenkan orang Islam, sekarang saya ingin mendakwahkan Islam.
Karena sering menjadi penceramah, nama saya pun mulai dikenal. Bahkan saya pernah didaulat untuk menjadi pembicara pada sebuah tabligh akbar di Cirebon yang dihadiri sekitar 10.000 orang.
Seperti halnya teman-teman saya yang sudah masuk Islam terlebih dahulu, saya pun mengalami ujian berat, terutama dalam bidang ekonomi. Kehilangan pekerjaan, dikucilkan dari pergaulan, dicaci maki, adalah hal yang saya terima.
Saya dipecat dari pekerjaan tanpa mendapat pesangon. Walaupun demikian, rasa percaya diri dan iman kepada Allah semakin tebal. Semua itu saya hadapi dengan tabah.
Setelah menghadapi berbagai kesulitan, Allah SWT membukakan pintu anugerah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Allah menitipkan sebuah rumah dan tanah kepada saya sekeluarga. Beberapa bulan lalu Allah mengundang saya dan istri untuk menunaikan ibadah haji dengan gratis. Alhamdulillah, hidup saya pun lebih dari cukup. Di balik itu semua, ada hal terindah yang saya rasakan, yaitu bertambahnya saudara dan lahirnya kedamaian hidup dalam naungan Islam. (dari : MQ/kotasantri)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M
http://swaramuslim.com/islam/more.php?id=5483_0_4_0_M
Let’s Taste Being Muslim
Oleh : Al Shahida
penulis rubrik Kabar Dari London
Gadis asal Czeckolovakia yang sebelumnya Katolik ini begitu kaget dan mengaku betapa nikmatnya bisa merasakan Islam. "Lets’s taste being Muslim…”, undangnya
Pengajian mingguan yang aku hadiri tidak seramai biasanya. Agak sunyi. Beberapa hari terakhir memang London tengah diguyur hujan hingga menyebabkan semua kegiatan rutin agak tersendat-sendat. Beberapa peserta banyak yang terkena sakit flue atau alasan lainnya.
Meski banyak yang absen, tapi hari itu ada keistimewaan tersendiri. Tiga diantara peserta yang hadir adalah dua brothers dan satu sister muallaf. (watch Converts to Islam:Islam Sweeping the west!
Mereka adalah brother Gaffar (Jaffar) alias Gavin yang baru sembilan bulan menjadi Muslim, Jamal alias James dan sister Aisyah, gadis cantik asal Czeckolovakia.
Sebelum mengakhiri pengajian, kami memberi kesempatan kepada sahabat kami, seorang muallaf yang hadir hari itu untuk menyampaikan pendapat serta pengalaman spiritual mereka selama menjadi Muslim.
Mereka masing masing menyampaikan perasaan dan pengalaman mereka selama menjadi Muslim. Tentu pendapatnya masing-masing berbeda. Namun satu yang pasti bahwa mereka tambah yakin akan kebenaran Islam, merasakan satu ketenangan dalam jiwa mereka. Tidak itu saja, Gaffar mengatakan bahwa sejak ia kembali dari umrah Ramadhan lalu, kini ia lebih terbuka dan berterus terang dengan para pegawai, baik tetang dirinya yang sudah Muslim. Kebetulan ia seorang direktur di perusahaannya.
Konon setiap hari, ujarnya, ada saja orang bertanya tentang Islam. Tak hentinya mereka bertanya, kebetulan yang bertanya adalah orang-orang ilmuwan. “I love talking Islam in science percepective,” ujarnya. Begitu juga Jamal dan Aisyah. Maha Besar Allah. Pesan dan kesan mereka membuat kami yang lahir Muslim jadi terpacu dan terpicu untuk meningkatkan keimanan kami. Pengajian ditutup lalu disambung dengan shalat maghrib dan diakhiri dengan makan.
Enam bulan....
Saya mengenal cukup lama dengan Aisyah. Namun baru kali ini berjumpa lagi dengannya, bertepatan saat pengajian. Selama ini, sister Aisyah, begitu saya sering memanggilnya, begitu sibuk dengan kursus Arab-nya (mengaji Al-Quran) selain bekerja tentunya. Kali ini ada ada kesempatan untuk berbincang. Kita memang sudah berjanji untuk bisa berbincang soal perjalanan dan pengalaman spiritualnya menuju Islam. Akhirnya, dengan senang hati ia membolehkan saya untuk menceritakan pengalamannya dalam bentuk tulisan.
“ I let you to write my story, my journey to Islam sis, I hope it will be useful for other”, ujarnya.
Ia nampak lebih anggun hari itu. Percaya dirinya kian bertambah dengan busana Muslimnya yang kaffah serta jilbabnya yang sarat dan memenuhi syariat –padahal subhanllah ia adalah seorang muallaf alias “A new Muslim atau convert” dibanding kita yang lahir Muslim atau 'born a Muslim'.
Kepadaku, ia menceritakan kisahnya. Sebelum jadi Aisyah nama asli nya adalah Yana. Ia datang ke London 3 ahun lalu. Gadis asal Czecklo ini datang di negeri Ratu Elizabeth untuk mengadu peruntungan dan mencari pekerjaan. Baru pertama kali itulah dalam hidupnya ia melihat Muslim. Menurutnya bahwa agama Islam itu agama yang eksotik, maksudnya eksklusif hanya cocok dan melulu untuk orang Arab saja, bukan untuk orang orang Eropa, baik Eropa barat atau timur , seperti dirinya, yang berasal dari Czecklovakia. Ia tahu betul bawa agama resmi dinegeriya adalah agama Kristen.
Sampai suaru hari ia berjumpa dengan seorang lelaki asal Pakistan. “Kami berteman,” ujarnya. Suatu petang mereka bercakap-cakap disuatu warung kopi atau cafĂ© sambil makan sore. Kami terlibat dengan percakapan soal agama sampai percakapan tentang agama Islam dan Muslim. Diakhir percakapan itu Aisyah mengajukan pertanyaan yang membuatnya terkejut:
“He asked me if I would to convert to Islam. I answered",
“Never! I can’t do something like this. It’s a really crazy idea!".
"Nggak bakalan deh saya melakukan yang begituan. "Wah itu bener bener gila kalau saya masuk Islam, lalu ia bertanya lagi".
“Why?“
“I answered,”Because I like to wear top, T-Shirt and jeans and I like to do sunbathing and swimming and so on and so on....” (Karena saya suka pakai baju blus biasa, T-shirt dan celana jeans, juga saya suka berenang dan berjemur di matahari).
“Saya heran kenapa temanku ini kok aneh banget? Ngajakin saya masuk Islam. Ganti agama?. Ah, yang bener aja, emang gampang?" itulah kira-kira yang ada dibenak Aisyah kala itu.
“Ketika kami berpisah, entah bagaimana si lelaki ini telah meninggalkan suatu kesan di hati saya. Sangat membekas. Cukup dalam. Tak hentinya saya memikirkan percakapan petang itu, baik tentang Islam, Muslim dan permintaan atau pertanyaan dia kalau saya mau masuk Islam. Saya tak paham, lalu saya berkata. "Ah, gila dia," kenang Aisyah.
“Tapi… kenapa lantas saya tak hentinya memikirkan ini. Terus terang hal ini berputar-putar di benak saya. Tak ubahnya seperti korsel. Hati saya dibolak balik seperti juga saya membolak balikan tubuh saya ditempat tidur dimalam itu. Saya tak bisa tidur. Ya, Semalaman!”.
“Uh, rasanya saya tak sabar menanti hari esok, ingin rasanya matahari cepat datang dan terbit. Hmm saya dibuat penasaran oleh dia, si lelaki Pakistan itu. Ia telah membuat saya begitu interest sama agama ini hingga saya berbicara pada diri saya: “Ok it will be interesting to read something about this religion,” saya tertantang jadinya.
“Esoknya saya bergegas ke warnet lalu saya cari situs tentang Islam dalam bahasa Czech tentunya agar mudah saya pahami. Setelah saya baca secepatnya saya memilih artikel: “Posisi Wanita Dalam Islam”…dan betul betul membuat saya terperangah dan bahkan membuatku terpaku. Saya mikir."
“Betapa tingginya peran dan posisi wanita dan berapa banyak haknya Wanita dalam Islam’. Itu kesan pertama saya,” ujarnya.
“Kemudian saya lanjutkan dengan membaca beberapa artikel lainnya. Ia bagai sebuah magis. Kekuatan magnitnya begitu menerpa jantung saya. Kuat sekali. Saya tertarik.”
“Dari yang saya baca saya menyimpulkan betapa agama ini begitu toleran terhadap agama lainnya, tidak memandang suku, ras dan warna dan mengumpamakan bahwa kita ini bersaudara, bagai satu tubuh, mengundang persatuan”.
“Saya kopi-paste artikel ini ke dalam USB, lalu saya print sehingga saya bisa membaca di rumah. Sejak itu saya terus membaca Islam. Ibaratnya saya seperti orang kehausan. Tambah banyak saya membaca Islam, betambah banyak saya ingin tahu. Sampai kepada satu kesimpulan bahwa secara filosofi Islam ini begitu penuh dengan kedamaian dan apapun yang ditawarkan oleh Islam sepertinya serba masuk akal dan sangat fitrah. “Islam is peaceful and every thing makes sense in Islam”, demikian kata Aisyah.
***
Suatu hari, Aisyah mengaku rindu akan keluarganya dan ingin memiliki Al-Quran dengan terjemahan dalam bahasa Czeck yang tidak ia dapatkan di London. Akhirnya ia pulang ke Czeck untuk mengobat rindu kepada keluarga sambil liburan. Di sana ia membeli kitab Al-Quran dalam dengan terjemahan bahasa Czeck. Ia baca kitab suci ini ini berulang-ulang, sungguh ia terpana dibuatnya. Salah satu ayat yang membuatnya terpana adalah ayat di bawah ini:
“The good deed and evil deed cannot be equal. Repel (the evil) with one which is better (i.e. Allah orders the faithful believers to be patient at the time of anger, and excuse those who treat them badly) them verily he, between whom and you there was enmity, (will become) as though he was a close friend.”
(Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS. 41:34))
“Ayat ini telah betul-betul merasuk ke hati saya, sangat dalam”, ujarnya ketika ia membaca ayat 34 surat Fushilat.
Waktu terus berjalan. Kira-kira enam bulan. “Perasaan ini kian menguat bahwa saya ingin sekali mengikuti agama ini," ujar Aisyah.
“Saya kembali ke Czeckoslovakia untuk liburan lagi sambil ingin mengatakan kepada kedua orangtua saya tentang agama Islam yang sedang saya pelajari dan saya cinta. Alhamdulillah, mereka berdua tidak keberatan sama sekali".
"Kok bisa sis, mereka tidak kecewa, marah atau bersedih,” tanyaku. “Well, kami di Czecko, terutama di keluarga sama sekali hampir tidak pernah berbicara soal agama. Ke gerejapun, saya hampir tidak pernah melihat mereka pergi, walaupun mengaku beragama Katolik (Roman Catholic). Kami di Czecko memang di sana rata-rata Katolik," ia menambahkan.
“Atas restu kedua orangtua saya akhirnya saya balik ke London dan mengikrarkan syahadat pada bulan Maret 2006. Ah ternyata tidak susah ya menjadi Muslim, hanya mengucapkan, “ ujarnya.
"ASHHADU ANLA ILAHA ILLA-ALLAH WA ASHHADU ANNA MUHAMMADAN RASULAHH". I witness that is not got except Allah and I witness that Muhammad is messenger of Allah.” (Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah)
Sejak bersyahadat Aisyah merasa berbahagia dan mendapatkan ketenangan, dan ia lebih intens belajar Islam serta belajar bahasa Arab. Di akhir pekan ia belajar bahasa Arab (maksudnya belajar mengaji). Meski ngaji nya masih rada alot kedengarannya. Namun ia berupaya keras menghafal surat-surat pendek untuk shalat.
“Islam menurutku, sangat mudah praktis,” ujarnya. “Bahwa Islam itu tidak cuma shalat lima waktu, pake jilbab.. tapi Islam adalah cara hidup atau ‘A way of life..ad-Dien, menurut saya bahwa Islam adalah apa yang kita kerjakan dari pagi hingga petang.”
Niqab Aisyah
Bulan September, enam bulan usadi bersyahadat, Aisyah menggunakan abaya atau baju Muslimah. Sebelumnya, untuk beradaptasi saat pulang ke Czeck dia cuma pake baju biasa. Rok panjang, blous tanpak jilbab. Itupun sudah membuat teman-temam di kampusnya terkejut melihat perubahan itu. Dia potong kukunya pendek dan tidak lagi mengenakan kutek. Saudara sepupunya yang seusia, bahkan sempat marah dan tidak suka saat ia tahu Yana masuk Islam. Bahkan beberapa saat mereka tidak saling menyapa dan bicara.
Lebaran 2006 lalu, saya terkejut. Sebab saya temukan ia memakai niqab (cadar). Lebih terkejut lagi setalah tahu bahwa ia telah melepas cadarnya. “Kenapa dilepas, “ bagitu tanyaku kala itu. Menurut Aisyah, dia tahu itu tidak diwajibkan dan banyak pendapat beberapa imam (scholar) yang berbeda.
Semenjak beralih memeluk Islam, Aisyah sangat rajin belajar agama dan mengaji. Kini, ia memiliki seorang guru asal Pakistan.
“Guru saya seorang Syeikh (baca ustadz), asal Pakistan, mengatakan bahwa Islam itu bukan sebuah agama kekerasan, opresi (opressed) menekan atau pemaksaan, tapi Islam adalah agama pertengahan dan mencari keseimbangan dalam segala aspek di dalam kehidupan kita sehari-hari. Islam bukan agama hanya ibadah ritual saja, bukan pula agama ke-rahiban, atau sebaliknya mencari dunia saja dan melupakan Tuhan atau kematian. Dalam Islam ada waktu untuk menyembah Allah, waktu untuk keluarga, bermain dengan anak-anak, berinteraksi dengan manusia, berbuat kebaikan, bekerja atau studi dan bahkan kita diperintahkan untuk santai. Semua itu adalah ibadah.” Demikian ujarnya.
“Saya tengah meniti menjadi Muslim yang betul-betul akan berada pada tingkatan bahwa saya akan bisa merasakan melihat Allah, walau bukan dengan kasat mata. Artinya apapun yang saya lakukan saya tahu Allah menyaksikan perbuatan saya, saya mengutip ini dari apa yang Rasulullah sampaikan disalah satu hadits.
“Sis, jika ada orang bertanya, seperti apa rasanya menjadi seorang Muslim. Apa yang akan Anda jawab?”, begitu tanya saya pada Aisyah.
“Saya akan menganalogikan seperti makan buah apel deh. Saya akan katakan kepada mereka untuk merasakan buah apel, Anda harus mencicipi dan memakannya sendiri. Di situ Anda akan tahu seperti apa indah dan lezatnya buah apel. Rasa buah apel ini hanya bisa dirasakan dinikmati kalau Anda mau memakannya sendiri."
Sebelum menutup pembicaraan, Aisyah mengundang bagi mereka yang belum tahu rasanya bagaimana menjadi seorang Muslim agar bisa merasakan bagaimana nikmatnya berislam.
"Let’s taste the feeling to be a Muslim", undangnya.
London, 6 Januari 2006
[by Al-Shahida/hidayatullah.com]
Oleh : Al Shahida
penulis rubrik Kabar Dari London
Rabu 25 Desember 2007 aku menerima ucapan selamat via telefon: ‘ Eid Mubarak sis…’ langsung kujawab’ Thank you and Eid mubarak to you too .’ lalu sambungnya ‘And merry bloody Chirstmast…! ucapnya. Aku sungguh terkejut menerima kata-kata bloody, entah apa maksudnya. Sindirankah?
"Hoosh…why do you say bloody? (bloody artinya sialan, slang. pen) tanyaku.
‘Well.. its true, its bloody christmast?
‘Lho emang kenapa kamu kesel dan sebel nggak ngeraya-in natalan?
“Bukan sis…aku ikutan stress gara-gara krismasan, semua orang dibikin gila, panik, stress & kesurupan, mereka juga begitu agresif. Dimana-mana. Ditoko, disupermarket, dijalanan, semua penuh sesak, macet gara-gara ini, belum lagi yang mabuk..huh. Coba lihat sekarang, akhirnya mereka diam dirumah, merayakan festifal Pagan itu!, ujarnya. ‘Ooh…begitu’ kataku, lalu ia menyelag,
"Jadi nggak sisi datang kerumah kami ? plis deh? Biar rame, biar ibuku seneng ada yang mengunjungi, aku juga undang teman lainnya’ Syerif membujukku untuk datang kerumahnya di Eastcote, Middlessex pada hari libur yang bertepatan pada tanggal 25 Desember pekan lalu.
Sebetulnya aku tidak bermaksud keluar, ingin menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda-tunda. Hebatnya sang brother merayuku kalau ia akan menolongku, menyelesaikan semua yang belum selesai, ujarnya: ‘Bring all your work, laptop, I will help you ,don’t worry” bujuknya.
Akupun berkemas menyiapkan laptop, USB, membawa beberapa draft surat dan laporan. ‘Ooops don’t forget to bring Tiramisu, Mum love it..', pesannya.
Syerif alias Simon yang muallaf Inggris mengatakan bahwa ibunya merasa kesepian, karena biasanya dihari Natalan abangnya John, istri serta anak-anaknya datang merayakan natalan. Namun, karena Ibunya, telah memeluk Islam sejak Desember 2006, maka Natalan ditiadakan dirumahnya. Sementara Syerif ingin sekali membuat bahagia ibunya dengan mengundang kami untuk kumpul dan makan sore.
Ahad lalu Syerif tidak datang ke pengajian karena abangnya John datang berkunjung menjumpai ibunya, ‘ I cant go to the gathering sis because I want to make sure he doesnt give Mum wine..’ ujar Syerif via sms, padahal dia ingin sekali datang. Mereka datang membawa hadiah dan kartu natal untuk ibunya ‘kufikir sudah tradisi, gak bisa di stop sis, kubiarkan saja", ujar Syerif.
Ke Eastcote, Middlessex
Alhamdulilah perjalanan ke Eastcote cuma memakan waktu 1½ jam, kalaupun ada trafik tidak separah dihari-hari kerja. Karena aku lewat London city (atas saran Syerif) banyak kutemui pemandangan yang cukup merepotkan. Dijalanan kutemui beberapa pengendara mobil yang rada riskan, tidak stabil, bahkan sangat pelan sehingga aku sering dikasih lampu besar peringatan oleh pengendara mobil dibelakang. Disuruhnya aku mempercepat mobilku.
Mungkin akibat minuman alkohol yang berlebihan pada malam sebelumny mereka membawa mobil begitu pelannya. Aku hampir menabrak mobil sedan yang tiba-tiba membelokkan mobilnya secara tiba-tiba tanpa memberi sinyal, yang rupanya mau berputar U-turn kekanan. Untung aku sigap melempar si mobil kekiri sehingga kecelakaan terhindar..dengan serta merta kuklakson dengan keras pertanda aku marah dan... maha besar Allah, aku masih terlindungi.
Begitu aku tiba mereka menyambutku. Aku langsung masuk dan nampak bunda Sarah sedang duduk diruang TV. Menyambutku. Kusalami, sekaligus kupeluk hangat si ibu yang sedang menantiku. Lalu kukeluarkan bingkisan kecil, oh beliau nampak sumringah menerima hadiah kecil, Sarah kemdian membuka hadiah itu.
"what is this? tanya beliau,
"Just something little for you..’ kataku.
Hadiah jilbab itu langsung menjadi bentuk segitiga.. ’Shall I put this in your head..? tanyaku. Yes please..’[i] jawabnya.. Subhanllah ia nampak ayu dan entahlah.. Syerif mengambil foto bundanya, klik..klik! si ibu selalu mengucap kata-kata 'cheese' dengan senyum lepas.
[i]“Tapi Mum sudah engga wajib lagi khan pake jilbab, sis?” tanya Syerif. Aku bilang ‘tidak’ karena beliau sudah lebih dari tujuh puluh, terserah beliau, tapiii, ujarku waktu sholat beliau wajib metutup kepalanya. Syerif meng-iyakan. Saat kami sholat, si ibu hanya duduk di sofa, menggerakan tangannya sambil berusaha mengucap lafadz ‘Allahu Akbar’ kami sholat dzuhur berjama'ah.
Berkelakar
Syerif mau meyakinkan ibunya tentang natalia menggoda ’Mother remember no chrismast today…’ si ibu menirukan, sambil menggelengkan kepalanya ’no Chrismas today, I know that Simon’ (ia masih memanggil Simon) . ‘You are not worried about Chrismast dinner either, are you mother? kelakarnya lagi. ‘No.. I am not hungry, anyway..’ jawab sang ibu. Akhirnya Syerif kedapur membuat teh untuk kita semua. ‘
Tahun ini ‘Sarah Quinn’ demikian nama lengkapnya tepat memeluk agama Islam dua tahun. Tepatnya pada tanggal 3 Desember 2006 (12 Dzul QAIDAH 1427) sepekan sebelum ulang tahunnya yang ke 90. Aku ingat setahun lalu Syerif menelfonku, dengan gembiranya ia mengatakan bahwa ibuny sudah resmi bershahadat di Masjid Agung Regent Park Mosque, London , dan kamipun menyampaikan rasa bahagia ini lewat telefon, email atau sms. Kami semua berdoa dan mengucapkan selama untuk bunda Sarah Quinn.
Pertama kali menemukan Islam
Dengan agak terbata-bata, maklum sudah lanjut usianya beliau bertutur bagaimana ia tertarik dengan Islam. Menurutnya pertama kali ia temukan Islam saat ia pergi mengunjungi anaknya Simon yang kini menjadi Syerif di Middle East. ‘Sepuluh tahun lalu’, imbuh Syerif.
“Saya dibesarkan dan dididik dengan cara Katollik dan selalu pergi ke gereja secara teratur. Saya tidak pernah berfikir banyak tentang agama saya, juga saya tidak pernah bertanya apa-apa pokoknya saya terima apa adanya, dan penuh. Di Irlandia cuma ada dua pilihan yakni agama Katolik atau Protestan. Itu saja. Tidak ada yang lain’ paparnya.
“Jadi memang saya termasuk yang patuh dan nurut, tidak pernah bertanya macam-macam, apalagi kritis dengan agama Katolik saya, walaupun ada satu hal yang membuat saya heran dan tidak paham dan selalu bertanya-tanya misalnya kenapa Pendeta di Katolik tidak boleh menikah?”. Itupun baru muncul dibenak saya akhir-akhir ini saja.
“Soal Yesus..saya selalu percaya bahwa Yesus adalah seorang nabi, dan saya selalu percaya bahwa hanya ada satu Tuhan. Terus terang saya tidak pernah paham Triniti tapi juga tidak pernah merisaukan saya”, tegasnya lagi.
“Selama saya di Oman dimana anak saya Simon bekerja, disitulah saya temukan ada agama lain selain Katolik dan Protestan. Disana saya berjumpa dengan berbagai Muslim yang begitu ramah, baik, dan selalu menyambut hangat akan kedatangann saya.” kenangnya.
“Waktu itu saya tidak berfikir tentang Islam sama sekali”, ujar ibu Sarah sambil membenahi jilbabnya kebelakang, ‘…tapi saya betul-betul meresapi (absorbed) suasana yang begitu hangat, tenang dan penuh kedamaian yang akhirnya mungkin membuat saya mulai berfikir tentang Islam secara perlahan dan tanpa saya sadari.”
“Syerif memang sudah masuk Islam lebih dulu. Saya cermati memang ada perubahan, misalnya dia tidak minum alcohol dan tidak lagi mau makan bacon. Namun yang lebih menonjol lagi ko anak ini lebih santun dan perhatian sama orang tua’ demikain ibu Sarah menjelaskan tentang anaknya Syerif.
“Saya senang membaca, dia selalu membelikan saya buku-buku tentang Islam, yang mudah dipahami sehingga pengetahuan saya tentang Islam jadi bertambah, terutama beberapa tahun terakhir ini"
"Saya sendiri tidak tahu bagaimana saya bisa jadi Muslim dan memeluk agama ini. Selain membaca, kami selalu bercakap-cakap dan diskusi mengenai Islam, saya kira inilah kontribusi Syerif walau dia tidak pernah memaksa saya”.
“Namun…tambahnya lagi ‘ Satu yang sangat saya suka dan sangat beruntung, anak saya ini begitu peduli mengurus dan menjaga saya, pada usia yang renta ini. Saya khan sudah tambah tua dan tidak begitu sehat. Mungkin dia banyak belajar dari Al-Quran dan Islam bagaimana sebaiknya sikap anak terhadap orang tuanya”.
Rupanya hal positif yang ia saksikan dan rasakan membuat perasaan ibu Sarah betul-betul ingin memeluk agama Islam. Setelah difikir lama dan dipertimbangkan akhirnya bunda Sarah memutuskan untuk memeluk agama baru ini dan ia mengatakan bahwa Islam adalah agama fitrah, lurus dan tepat untuknya.
“ Islam membuat saya merasa damai dan tenang’ bunda Sarah mengutarakan kesannya. Beliau mengatakan bahwa mereka (Muslim) kelihatannya bahagia, tenang dengan kehidupan mereka walaupun kalau diukur secara materi kurang memadai, karena mereka tahu siapa Tuhannya dan percaya ada hari pembalasan.
“Itu lho teman-temannya Simo, langsung menyambut dan menerima saya dengan hangat dan mereka semua tahu kalau saya masuk Islam dengan ikhlas dan tidak pura-pura, bukan karena pengaruh orang lain dan ini atas kehendak saya sendiri” sesekali saya pegang tangannya yang lembut, halus tapi dingin dan begitu rapih bentuk kukunya.
Bunda Sarah mengakui bahwa pengalamannya berkunjung ke Middle East telah berperan banyak ditambah percakapan dengan anaknya Syerif yang telah dengan sabarnya membimbing dan meyakinkan beliau tentang Islam. Ibu Sarah mengakui bahwa ketika ia memutuskan untuk masuk Islam ia tidak dipengaruhi oleh siapapun. “I made up my mind’ ujarnya.
Tambahnya lagi : “Bayangkan my dear, seumur hidup saya menganut dan penganut Katolik..eh sekarang saya memeluk agama Islam, kadang saya bertanya bagaimana ko saya bisa jadi Muslim?. Ini merupakan tantangan baru untuk tahun yang baru untuk saya sebagai seorang Muslim yang baru. Alhamdulilllah, Allah masih memberi peluang kepada saya untuk menjadi hambaNya mengakui bahwa hanya Satu, bukan tiga, yaitu Allah serta pengikut Nabi Muhamda saw, padahal jarak ke kuburan untuk saya tinggal beberapa jengkal saja, bukan?. [i]‘Its never too late to change my religion’ . Tidak ada kata terlambat untuk berganti agama, walau saya sudah tua’. [/i]
Acara Ber-Lebaran dirumah
Percakapan kami sudahi, tak lama penganan siap dihidang bertepatan dengan kedatangan teman karib Syerif yakni Mizan, Khalid dan Mahmoud. Kamipun duduk menikmati makan sore, ' A High Tea atau Supper' berupa Moussaka, makanan ala Yunani, lengkap dengan nasi, salad, ditutup dengan non alkohol Tiramissu, cuci mulut ala Italy, home-made dan ditutup dengan kopi atau teh. (Al Shahida)
London, 30 December 2007
http://swaramuslim.com/islam/more.php?id=5484_0_4_0_M
Akhirnya James(Zakariyya) Berikar
Oleh : Al Shahida
penulis rubrik Kabar Dari London
Disuatu petang Zakariyya datang memenuhi janjinya untuk memasang printer dan scanner dirumaku. Ditemani teh hangat ala Inggris, saya bertanya pada sahabat muallaf, yang begitu baik menolongku untuk urusan komputer dari virus sekaligus memasang scanner printer yang baru saja kubeli dari dikedai PCWorld Bromley. ‘Bagaimana perasaan kamu pada bulan Desember ini? Apakah suasana Natalan tahu ini masih ada pengaruh pada dirimu? tanya saya pada James alias Zakariyya.
‘Ada juga sih tapi justru sangat kontradiktif', jawabnya. ‘Saya bahagia banget kali ini, tapi bukan bahagia karena natalan, malah sebaliknya, saya merasa senang dan bahagia banget karena…’! ujarnya diringi senyum, sambil berlari kearah komputer’ oops bentar saya cek dulu si komputer, ‘ ok, ayo lanjut kenapa ko sampe segitu senengnya?’ tanyaku penasaran.
‘Well I am happy because I can get away this time, completely’ ia begitu cerianya. Lanjutnya lagi,’ No celebration, no pressure to buy presents, nor alcohol either, I am really free and this this the first time ever… I don’t celebrate christmas in my life !. Ia merasa terbebaskan dari semua tekanan perayaan natalan, menurutnya.
Ia bercerita bahwa tahun lalu, walau ia sudah segan dan wegah merayakan natalan namun karena James masih bercabang fikirannya antara menghormati orang tuanya dan keraguan terhadap agamanya, namun karena ia masih ingin menghormati kebiasan dan tradisi keluarganya ia masih merayakan natalan. Artinya datang berkumpul, merayakan dan menikmati makanan tradisi natalan.
Hampir setiap keluarga di Inggris, menurutnya, mempercayai bahwa ini bukan perayaaan keagaam Kristen tapi melulu acara tradisi budaya Eropa yang dilakukan ratusan tahun, yakni acara keluarga berkumpul yang cuma terjadi sekali setahun. Sekarang sudah banyak ditemukan kalau ini tradisi Pagan yang menyembah matahari, merayakan malam terpanjang dan sebagainya. Di Inggris rata-rata disaat berkumpul mereka menghidangkan masakan ayam kalkun yang di panggang dalam oven lengkap dengan sayur mayur dan ditutup dengan krismas puding yang begitu berat, plus ditambah makanan lainnya dan tak lupa ditemani alkohol dan puncak nya dari acara ini tentunya membagikan hadiah bagi keluarga..demikian ia bertutur.
Lalu katanya lagi:’ Ingat tidak sis dua pekan lalu, saya pergi mengunjungi ibu saya di utara Inggris sana, beliau kan ulang tahun yang ke 70. Disitu saya bilang kepada kedua orang tua saya bahwa tahun ini saya tidak akan datang ikutan merayakan natalan. ‘So don’t worry about chrismast pudding and Turkey Mum I just would not join the christmast this time ’ ujarnya. ‘ ‘.. alhmdulillahh mereka paham dan menghargai keputusan saya’ tukasnya.
‘Sebetulnya mereka membujuk saya untuk datang dan berkumpul dengan adik dan kakak serta para ponakan’ paparnya, ‘tapi…’ tambahnya lagi’ ibu saya khan tidak akan bisa dan tahu memasak daging atau ayam halal, lagian walaupun ini bukan acara ritual atau relijius, kalau saya hadir berarti saya merestui perayaan pagan mereka, iya engga sis? ‘Betul juga sih..belum lagi nanti pada minum alcoohol, kamu menonton mereka dan mereka akan mentertawakan kamu engga minum’, tambahku. Aku menyetujui. ‘Lalu bagaimana reaksi mereka tanyaku. ‘Well, masya Allah, mereka menyambut baik, memahami , menghargai keputusanku dan bahkan cukup supportif, dan mereka tahu ko sekarang saya muslim dan saya tunjukan sajadah, hmm bahkan saya bisa sholat dirumah ibuku..’ Alhamdulillah kataku. Well, begitulah, pokoknya saya seneng bisa lepas dari beban ini dan yang penting ibu dan ayah saya tidak kecewa atau bersedih…’
Jadi mau ngapain atau mau kemana dihari natal nanti? Aku bertanya penasaran ‘ Oh..saya sudah booking tiket tgl 20 Desember ini, mau kabur ke Spanyol, dengan teman muslim saya, pingin lihat Alhambra dan sejarah peninggalan Islam di Spanyol, ujarnya.
‘Lantas kedua anak remajamu gimana ? . ‘Mereka sama ibunya dan neneknya. ‘Biarkan tahun ini anak-anak sama ibu mereka, merayakan natal’ ujarnya,’nanti kalau saya sudah punya rumah sendiri saya ajak anak saya pindah kerumahku, and hey will follow me…’ sambil ia tertawa lebar, seakan yakin kalau anaknya akan mengikuti jejak ayahnya.
Demikian cerita brother Zakariyya yang menyampaikan rasa leganya karena dia telah mampu memberikan pemahaman kepada kedua orangtuanya serta kedua anaknya bahwa tahun ini betu-betul tidak akan merayakan natalan.
Pertemuan Pertama
Saya ingat.. suatu Ahad, saat saya berjumpa pertama kali dengannya James dipengajian ‘StepstoAllah, di Islington, London utara. James saat itu belum Muslim, ia masih mencari-cari dan meyakinkan dirinya. Entah bagaimana saat pengajian usai, James berbisik kepada Hilaal ‘ I think now I would like to take shahadah…I like to do it in the mosque, what do you think?’ dengan serta merta Hilaal menyambutnya dan langsung memaklmuatkan keinginan James ini, kamipun terkejut, sekaligus terharu mendengarnya.
Dia pamit dan bergegas hendak pulang namun sempat saya jegat, langsung, saya panggil brother walau James belum resmi Muslim, ’ Brother are sure you want to be Muslim? Tanyaku, ‘ Well….hmm yesss’ begitu gaya James berbicara dengan santun dan pelan. ‘Are you sure though? Cant you see how media always expose us as a very bad and extreemist and yet you want to become Muslim ?’ saya cuma ingin mengetes keyakinan James. ‘Does not that put you off? tambahku lagi. Saya bombardir James dengan banyak pertanyaan.
‘Yes sister I know that but.. mmm I am very positif and sure about it, especially today, I have thought about this for quite long time. It does not bother me what media say. I don’t trust them. In fact its bit too long for me to decide’ tegasnya..’..but today Im more confident’ ia meyakinkan dirinya. Demikian James menambahkan bahwa mestinya ia sudah lama bershahadat dan masuk Islam namun ia terlalu banyak pertimbangan.‘ I am a very slow to decide’ ujarnya lagi. Akhirnya saya katakan padanya bahwa kami akan bantu dan support dia dalam banyak hal. Dari sejak itu Jamespun ikutan jadi anggota milis pengajian sehingga ia merasa kerasan, nyaman dan bisa komunikasi lewat email.
Bersyahadat di Masjid…
Akhrinya James mengumumkan sekalgus mengundang kami lewat email rencana untuk melakukan shahadat ini. Pada hari yang direncanakan kami ke Masjid. Disuatu hari Sabtu, dimusim panas tahun 2007 kami bersiap-siap untuk hadir pada acara penting ini. Hilaal mengatakan bahwa acaranya usai/ba’da dzuhur. Siang itu kukebut si maroon Reynold dengan kecepatan lumayan, dibagasi mobilku ada sepinggan besar Cheese cake, lengkap, serta beberapa piring kecil dan sendok plastik, sekedar untuk tasyakuran atau syukuran atau ‘celebration’ istilah lainnya.
Syukur ada tempat untuk parkir, langsung keruang lantai paling bawah (basement) Masjid Regent Park, London. Nampak beberapa orang yang saya yakin teman-temannya James yang datang menghadiri untuk menyaksikan acara ini, beberapa teman dari pengajian mingguan kamipun hadir. James hari itu mengenakan baju kemeja Koko ala Pakistan (kemeja sepanjang lutut), berwarna putih. Ia nampak tenang, begitu ia melihatku ia menyambutku dan menyapa ‘Asalamualaiakum sister, thank you’. Akhirnya kami semua duduk lesehan ditikar rafia plastik menunggu kedatangaan pak Imam.
Tibalah pak Imam yang berasal dari Mesir, beliau menyalami James. Mereka duduk berdekatan, nampaknya pak Imam tengah memberikan arahan sebelum pengikraran dimulai. Kami mendengarkan dan menyaksikan dengan penuh khidmat. Semua perhatian terarah kepada mereka berdua, akhirnya tibalah saat yang dinantikan:
‘Brother follow me: …La ilaha ilallah….’ Ujar pak Imam, dan Jamespun berupaya menirukan ‘La ilha ilallahilallah..’ dengan pelan dan susahnya ia mengikuti pak Imam, …’ Muhammad dar Rasulullah….’ Dan Jamespun melengkapinya…’ ia mengulangnya untuk lebih afdhol. Whhuuus. nampak James terseyum riang lalu disalami oleh imam dan dipeluknya. ‘Alhamdulillah… you are Muslim now, all these brothers and sisters are witnessing you, so the angels in this room.’ ujarnya. Kami bertakbir, pelan sekali.
Pak Imam berdiri meninggalkan kami semua, karena beliau harus memenuhi janji lainnya. Lalu kami datang mendekat James mengucapkan selamat kepadanya ’Well Done, congratulation, Mabruk…hmmm mereka yang lelaki berjabat tangan dan berpelukan, tentunya, saya sibuk menjepret dengan sang digital. Aku menyaksikan penuh haru dan entahlah, akhirnya kami yang wanita atau sister dapat giliran untuk mengucapkan selamat dan hanya dengan isyarat saja. karena kami tidak bersalaman. Lalu foto bersama. Usai itu kami ke kantin untuk bertasyakur,’ lets go to cantin to celebarte..’ undangnya.
Kami pesan minuman hangat teh atau kopi, beberapa orang pesan makan siang, karena mungkin belum makan. Kamipun duduk dengan bahagianya Saya memilih duduk dekatnya agar bisa lebih banyak berbincang. ‘How do you feel now brother? tanyaku ‘Its great…alhamdulillah I feel so happy now feel just relief and its done!’ jawabnya. Tiba-tiba ia mengatakan ‘ brothers and sisters…thank you for your coming, your are very supportive and really appreciate it’, ujarnya. ‘I have chosen a Muslim name so call me from now ‘Zakariyya..no more James, please. Kami bertepuk tangan kecil.
Hadiah untuk brother Zakaria berdatangan. Ada yang memberi kitab Al-Quran, buku tentang Islam, sajadah dll-nya. Kerlip lampu camera bergantian mengabadikan peristiwa penting ini. Akhirnya kami menikmati minuman dan makanan kecil berupa cheese cake. Ia tak hentinya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga, ia merasakan seperti mendapatkan keluarga baru. ‘New family’, Acara tasyakuranpun selessai, kami pulang.
Saat makan siang James turun kedapur lalu ia berbincang lagi tentang dirinya, tiba-tiba seorang ukhti muncul, lalu saya kenalkan. Ia bersegera mengeluarkan dompetnya lalu mencari secarik kertas dengan tulisan ‘ Zakriyya’. ‘I am trying to remember my new name..’ ujarnya, santun sekali ‘Yes my namae is Zakariyya with two wai (maksudnya y) ..’ ia memperkenalkan diri pada Nadia. Di sms dia menyingkat menjadi Zak, atau bro Zak..kadang lebih menyingkatnya menjadi initial Z. Itulah sekilas mengenai brother Zakariyya.
Ramadhan pertama
Ramadahn tahun 2007 adalah merupakan tahun pertama bagi brother kita ini melakukan shaum atau puasa dan baginya shaum merupakan pengalaman spiritual yang luar biasa, walau katanya pada dua hari pertama ia rasakan amat berat. Dan ia bisa memahami seperti apa laparnya, mereka orang-orang miskin yang papa yang tak mampu membeli makan, sedang secara fisik ia merasakan pembersihan racun-racun yang bersemayam ditubuhnya. ‘I really enjoyed fasting , it is like de-toxed your body, and I felt so light on the third week’ kesannya.
Awalnya ia berminat pada Islam
Brother Zakariyya menghitung dan mengenang kembali bahwa sejak pertama kali ia menyentuh dan membaca Al-Quran sampai saya bershahadat sudah berjalan 16 bulan. Tapi ko rasanya seakan saya sudah berIslam dan menjadi Muslim seumur hidup. Ia menafsirkan kalau begitu secara fitrah saya sudah Muslim, karena dari dulu saya tidak pernah yakin tentang ajaran yang saya anut sebelumnya.
Zakaria bertutur bahwa: Orang tuanya beragama Kristen tapi hampir tidak mempraktekan agamanya dan tidak ke gereja (they are not church goer). Saya selalu mengalami kesulitan menerima ajaran kristen….’ kenangnya.’ Begitu banyak doktrin yang tidak mudah dicerna dan diterima oleh logika, tambahnya lagi. Hal ini telah menyisakan perasaan dan jiwa saya yang kosong (emptiness) bahkan saya merasakan secara fisikpun sepertinya diri ini tak punya arti apa-apa. Ruang yang luas dan besar itu sepertinya betul-betul hampa untuk saya. Agama Kristen mengakui bahwa bahwa adanya Tuhan, maha Pencipta tapi saya merasakan sesuatu yang tidak nyaman dengan agama ini, ada sesuatu yang mengganjal dan saat itu saya tidak tahu apa.
Kemudian tambahnya lagi, ‘Saya berkenalan dengan seorang muslim sepuluh tahun lalu, seseorang yang setia dan tetap menjadi teman baik saya. Saya memiliki juga beberapa teman Muslim yang selalu membuat saya terkesan dengan kebaikan, dan ketenangan teman Muslim ini. Mereka sangat rendah hati, santun dan kemanusiawiannya sangat menonjol. Mereka selalu siap menolong, dan selalu siap menjawab semua pertanyaan saya tentang Islam. Terus terang saja bahwa saya tidak pernah terlintas dan terfikir bahwa saya akan menjadi pemeluk Islam. Ini luar biasa.!, ujarnya.
Pada musim semi tahun 2006, lanjutnya lagi, saya berjumpa seseorang yang memberi saya inspirasi untuk menjamah Al-Quran dan membacanya. Kebetulan saya tinggal dengan teman baik saya ini , dan hingga kini kami masih sahabat. Nah untuk menyentuh dan mengambil kitab Al-quran itu sebetulnya tidak susah dan tidak memerlukan waktu dan tenaga banyak yang mesti saya lakukan. Saya tinggal berjalan dari sofa ke rak buku yang cuma beberapa langkah untuk mendapatkan Al-Quran, mengambil kitab itu dan membacanya.
Terjemahan pertama yang saya baca adalah yang dipublikasi oleh Penguin Books. Menurut saya ini bukan sebuah translasi yang terbaik, karena setelah saya cermati si penerjemah cenderung untuk menafsikan semaunya dan tidak menerjemahkan secara benar atau dan tidak jujur tentang kebenaran. Perasaan saya mengatakan seperti itu. Namun ada satu hal yang baik dari penerjemah bahwa ia menyarankan untuk membaca surat-surat pendek dulu sebagai pemula dan permulaan karena surat lainya yang panjang itu sangat kompleks. Ayat 55 dari surat Ar Rahman dan ayat-ayat pada surat-surat At-Takwir (surat 81) itu saya kaitkan dan kesimpulan yang saya mabil membuat saya termangu dan dan merenung yang membuat saya begitu takjub dengan Al-quran dan agama Islam...
‘Saya ingat waktu pertama kali saya membaca Al-Quran, saya merasakan getaran dan dorongan kuat dihati saya. Oh, ingin rasanya saya masuk Islam seketika. Agama Islam dan Al-Qur'an menawarkan ajaran yang sangat alami, mudah dipahami dan diterima dan dicerna oleh logika dan hati sedang didalam Al-Quran juga banyak menceritakan kisah-kisah dan kehidapan para Rasul dahulu. Semua ajarannya seakan pas dengan kehidupan saya dan yang saya yakini. Al-Quran layaknya seperti keping-kepingan puzzle yang berserakan namun bisa digabung dan disatukan dan anehnya kepingan yang berserakan dan berbagai bentuk itu bisa disatukan dan menjadi sebuah gambar atau lukisan. Jelas, terang dan komprehensif. Saya melihatnya seperti itu, kata James.
Dalam waktu 2 bulan saya selesai membafa Al-Quran. Pada saat saya selesai membaca Alquran saya katakan kepada teman-teman Muslim dan keluarga tentang ‘Penemuan Baru’ saya ini, lalu saya katakan kepada mereka bahwa saya ingin masuk Islam dan sekaligus saya katakan alasannya mengapa. Saya katakan kepada mereka bagaimana dan apa itu Islam, juga makna untuk umum serta untuk kehidupan pribadi saya. Alhamdulillah keluarga saya mendukung dan paham akan perasaan saya.
Cukup banyak buku-buku dan literatur yang harus saya baca seperti: Kehidupan Muhammad saw yang ditulis oleh Martin Lings dan beberapa buku yang ditulis oleh para muallaf (reverts). Saat ini saya sudah memulai membaca terjemahan Al-Quran lainnya dan membaca buku-buku Sejarah Rasulullah, Nabi Muhammad saw dari beberapa dimensi sambil mengunjungi beberapa mesjid disekitar London dengan beberapa teman, sekaligus mempraktekan sholat saya. Sekali seminggu, pulang bekerja saya belajar bahasa Arab ‘Arabic lesson’ (catatan penulis maksudnya belajar membaca Al-Quran dengan IQRO yang diajar oleh brother Hilaal) .
‘Pada detik-detik saya akan melakukan shahadat saya berbicara lagi pada orang tua saya, sekedar meyakinkan dan mereka mengatakan bahwa mereka tetap tidak keberatan dan akan mendukung saya. Satu hal yang saya tidak bisa pahami ‘kenapa keseluruhan proses ini begitu memakan waktu lama?’
Dibawah ini merupakan ayat dan surat favorite saya yang begitu kuat memberi saya inspriasi dan kekuatan hingga akhirnya saya berani berikrar untuk bershahadat:
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nur:35)
http://swaramuslim.com/islam/more.php?id=5482_0_4_0_M
